- 29 Nov 2023
- 3 menit membaca
Diperbarui: 3 hari yang lalu
PASCA-kekalahan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1930), banyak benda peninggalannya diangkut ke Belanda untuk dijadikan “trofi”. Mulai dari pelana dan tali kekang kuda, keris Kiai Nogo Siluman, tongkat Kiai Cokro, tombak Kiai Rondhan, hingga klewang.
Klewang, sebilah senjata tajam (sajam) jenis sabel melengkung, lebih kondang dalam sejarah perjalanan kolonialisme Belanda di Nusantara sebagai senjata jarak dekat yang digunakan KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) dan pasukan khususnya, Marsose. Jika keris, tongkat, dan tombak Diponegoro sudah dikembalikan ke Indonesia, klewangnya masih tersimpan di Belanda.
Kabar itu diungkapkan peneliti Museum Bronbeek, John Klein Nagelvoort dan Pauljac Verhoeven, belum lama ini. Kepada NRC, Selasa (28/11/2023), Nagelvoort berkisah bahwa klewang Diponegoro itu sempat jadi koleksi benda pamer di Istana Het Loo di Apeldoorn sebelum berakhir di gudang Museum Bronbeek di Arnhem. Masih jadi pertanyaan, kenapa pihak Indonesia belum memintanya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















