top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Balada Menteri Goblok

Saat marak demonstrasi Tritura, sebuah lagu anak-anak diplesetkan untuk menyindir perilaku pejabat tinggi negara.

22 Mei 2021

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Aksi unjuk rasa mahasiswa pada 1966. (Arsip Nasional Belanda).

“Bloook ... Gobloook!”


Kalimat itu sempat viral beberapa hari belakangan. Bermula dari aksi seorang ibu paruh baya yang memarahi kurir pengantar barang. Dalam video yang diunggah ke media sosial itu, terlihat si ibu berkali-kali mengumpati kurir dengan sebutan goblok. Alasannya, barang yang dipesan lewat transaksi bayar di tempat (COD) itu tidak sesuai pesanan. Sontak saja, aksi si ibu tadi menuai sorotan tajam dari warganet. Apapun alasannya, ucapan itu bermakna nista.


Lema goblok dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti bodoh sekali. Presiden Sukarno pernah prihatin ketika unjuk rasa mahasiswa menghujat menterinya dengan sebutan goblok. Aksi mahasiswa itu dilakukan menjelang sidang paripurna kabinet pada 15 Januari 1966.


Menurut Cosmas Batubara, yang saat itu menjadi ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI), mahasiswa begitu muak dengan pemerintahan orde lama. Mereka menutut pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta ormas-ormasnya, perombakan Kabinet Dwikora, dan turunkan harga pangan. Tiga tuntutan ini kemudian dikenal sebagai Tritura (Tri Tuntutan Rakyat).


“Karena itu, ketika mobil para menteri yang akan menghadiri sidang kabinet lewat di depan mahasiswa, anak-anak muda itu meneriaki menteri yang lewat dengan kata-kata ‘menteri goblok’,” tutur Cosmas dalam Cosmas Batubara: Sebuah Biografi Politik.


Tidak hanya itu, para mahasiswa juga mendorong mobil yang ditumpangi menteri dan menggoyang-goyangnya. Tentu saja menteri yang berada dallam mobil ketakutan menghadapu perlakuan mahasiswa itu. Kekesalan para mahasiswa terhadap para menteri dalam Kabinet Dwikora memang telah mencapai puncaknya.


Pengalaman serupa juga tersua dalam catatan harian Soe Hok Gie yang dibukukan Catatan Seorang Demonstran. Di bilangan Salemba Jakarta Pusat, mahasiswa menyetop mobil-mobil yang melintas hingga menyebabkan kemacetan. Selama demonstrasi, kata Gie, mahasiswa melancarkan aksi tempel plakat di jalanan. Isinya bermacam-macam yang berkisar pada Tritura. Salah satunya adalah “RITUL MENTERI GOBLOK”. Gie juga mencatat, nyanyian-nyanian perjuangan yang lahir dari situasi politik penuh gejolak itu:


Tek, kotek-kotek-kotek

Ada menteri tukang ngobyek

Blok, goblok-goblok-goblok

Kita ganyang menteri goblok


Lagu plesetan yang berasal dari pencipta lagu anak AT. Mahmud berjudul “Anak Ayam” itu menjadi “top hits” di kalangan mahasiswa demonstran. Liriknya pun mengalami beberapa gubahan namun tetap bernada satir yang ditujukan kepada pemerintah. Salah satunya versi Ajip Rosidi, budayawan Sunda yang pernah terlibat  dalam Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI) di Bandung. Seperti terkisah dalam otobiografinya Hidup Tanpa Ijazah, lagu “Anak Ayam” itu mengalami sedikit gubahan pada bagian lirik terakhir.


Kotek-kotek, koteek

Menteri goblok disamber gledek.


Olokan mahasiswa yang berdemonstrasi itu rupanya sampai kepada Presiden Sukarno. Dalam sidang kabinet, Sukarno menumpahkan kejengkelannya mengenai ulah mahasiswa. Dia sakit hati menterinya dikatakan goblok. Kata itu semestinya tidak patut diucapkan terlebih lagi kepada orang yang lebih tua.


“Ini yang membikin sedih kepada saya itu, ya maksudnya, sedih kepada saya, sampai ada ucapan-ucapan dari kalangan mahasiswa, ‘menteri goblok’. Lebih kasar daripada perkataan bodoh,” ujar Sukarno dalam pidatonya yang terhimpun dalam Revolusi Belum Selesai: Kumpulan Pidato Presiden Sukarno 30 September 1965–Pelengkap Nawaksara suntingan Budi Setiyono dan Bonnie Triyana.

  

Aksi-aksi demonstrasi mahasiswa itu juga dibarengi dengan aksi mogok kuliah. Mereka berupaya mendatangi para menteri yang dicurigai terlibat Gerakan 30 September. Namun, usaha-usaha tersebut tidak banyak efeknya. Hasil kongkretnya hanyalah harga bensin turun dari Rp1000 menjadi Rp500.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Dari Brussel ke Jalan Astrid di Kebun Raya Bogor. Raja dan Ratu Belgia dari berbagai masa punya cerita di Indonesia.
Riwayat Konglomerat Dasaad

Riwayat Konglomerat Dasaad

Jaringan bisnis Dasaad membentang di dalam dan luar negeri. Ia tercatat sebagai pengusaha Indonesia pertama yang membuka kantor cabang di Amerika Serikat.
Brigitte Bardot yang Kontroversial

Brigitte Bardot yang Kontroversial

Brigitte Bardot tak sekadar ikon perfilman yang dijuluki “Marylin Monroe-nya Prancis”. Ia juga “lokomotif sejarah perempuan”.
bottom of page