top of page

Bambang Utoyo, KSAD Bertangan Satu

Saat dilantik menjadi KSAD, satu tangan Bambang Utoyo sudah tak sempurna dan menjadi sorotan. Buah dari era Perang Kemerdekaan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Bambang Utoyo dilantik Presiden Sukarno menjadi KSAD di aula Istana Negara, 27 Juni 1955. (ANRI).

11 Des 2024
3 menit membaca

Diperbarui: 2 Jan

TANPA boikot dari banyak petinggi teras Angkatan Darat pun, perban putih di bagian ujung kanan tangan Kolonel Bambang Utoyo yang tampak dalam upacara pelantikannya sebagai orang nomor satu di Angkatan Darat (KSAD) sudah menimbulkan kepiluan. Di dalam balutan perban putih itu, tersembunyi bekas luka sisa operasi amputasi di masa gerilya. Apalagi bila ditambah dengan suasana ganjil akibat boikot sejumlah petinggi teras Angkatan Darat, “penderitaan” yang dialami Bambang Utoyo kian bertambah.


Namun, alih-alih murung apalagi sedih, Bambang Utoyo justru merasa seperti tak pernah ada masalah pada pelantikannya. Dia sudah menduga sejak sebelum acara.


“Keadaaan ini saya terima dengan ketawa saja,” ucap Bambang Utoyo atas suasana pelantikan dirinya, dikutip Harian Pemandangan, 28 Juni 1955. “Tadinya saya menyangka tidak ada perwira-perwira Angkatan Darat yang akan hadir, tetapi ternyata ada beberapa yang hadir. Ini adalah suatu ujian yang harus saya terima dengan ketawa.”

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page