top of page

Banjir Produk Jepang di Hindia Belanda

Saat krisis ekonomi, barang Jepang dicari banyak orang di Hindia Belanda. Murah dan berkualitas, tapi dianggap pintu gerbang imperialisme.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Toko Fuji menyediakan produk-produk Jepang. (pinterest.com/familiekleist).

18 Jul 2021
4 menit membaca

“SIAPA belandja lebih dari f.1 dapat presen barang bagoes”. Begitu pesan promosi terpampang di Toko Okamura milik orang Jepang di Kramat, Batavia, pada 1936. Barang-barang yang dijual adalah kebutuhan rumah tangga. Lebih murah daripada barang-barang impor lainnya. Dalam masa resesi ekonomi, promo itu sangat menggiurkan.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page