top of page

Berkunjung ke Rumah Penculikan Sukarno-Hatta di Rengasdengklok

Mengunjungi salah satu tempat yang menjadi bagian penting dari sejarah bangsa Indonesia di Rengasdengklok. Tempat dimana Bung Karno dan Bung Hatta diculik oleh para pemuda.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Yanto Djuhari, cucu pemilik rumah bersejarah, Djiauw Kie Siong di Rengasdengklok. (Fernando Randy/Historia.id).

16 Agu 2020
3 menit membaca

Diperbarui: 14 Jan

HARI ini, 75 tahun lalu, sebuah rumah di Karawang, Jawa Barat, menjadi saksi bisu sejarah bangsa Indonesia. Rumah Rengasdengklok, begitu orang menyebutnya, menjadi tempat para pemuda menyembunyikan Sukarno dan Hatta dari pengaruh Jepang.


Para pemuda yang tergabung dalam Kelompok Menteng 31 membawa mereka beserta Fatmawati dan Guntur, istri dan anak Sukarno, dari Jakarta ke Rengasdengklok pada pagi 16 Agustus 1945.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page