top of page

Bertahan Hidup di Tanah Bencana

Liangan, desa yang hilang tertimbun lahar Gunung Sindoro, menyimpan kisah bagaimana masyarakat kuno hidup di tanah bencana.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Situs Liangan di lereng Gunung Sindoro. (Dok. Kemendikbud).

16 Mar 2021
3 menit membaca

Diperbarui: 16 Jul

LIANGAN, berjarak 8 km dari Puncak Sindoro. Menyimpan jejak peradaban yang tumbuh fase demi fase sejak abad ke-6. Namun, erupsi hebat Gunung Sindoro menguburnya pada abad ke-11. 


Liangan merupakan kompleks permukiman di lereng timur laut Gunung Sindoro, tepatnya di Dusun Liyangan, Desa Purbasari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Situs arkeologi ini terdiri dari permukiman luas dan kompleks. Di dalamnya ditemukan hunian, peribadatan, dan pertanian.


Sugeng Riyanto, arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta dalam “Situs Liangan: Ragam Data, Kronologi, dan Aspek Keruangan”, Berkala Arkeologi Vol. 35 Edisi No. 1 Mei 2015, menjelaskan erupsi Gunung Sindoro menyebabkan Situs Liangan terkubur oleh aliran piroklastik bercampur dengan awan panas dan aliran lava yang terus berlangsung itu kemudian disusul dengan aliran lahar dingin dan membentuk Kali Langit yang akhirnya memisahkan bangunan-bangunan di Situs Liangan yang awalnya satu kesatuan.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page