top of page

Bukan Haji dari Moskow

Gajah mati meninggalkan gading. Misbach wafat meninggalkan Sinematek.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Misbach Yusa Biran. (Historia).

12 Apr 2012
6 menit membaca

Diperbarui: 6 Mei 2025

DALAM buku kumpulan ceritanya, Keajaiban di Pasar Senen Misbach berkisah tentang Mang Jen, tukang cukur di kampungnya, Rangkasbitung, Banten, yang pensiunan awak kapal Semprong Belao di zaman Ratu Wilhelmina masih berkuasa di Belanda. Mang Jen, kata Misbach, mantan jawara berangasan. Masa mudanya dilewati di atas kapal, juga sebagai tukang cukur di kelas satu. “Taon empatbelas mamang udah pegang gunting,” kata Mang Jen menyombongkan diri.


Mang Jen insaf di masa tuanya. Tak lagi jadi jawara petantang-petenteng nyekek botol. Tapi sisa kejawaraannya masih ada. Paling tidak saat kliennya ngotot bahwa gaya cukuran Mang Jen tak sesuai dengan gaya yang diinginkannya. “Mamang ngarti... ngarti...” bentaknya emosi sambil memegang gunting, namun segera tersadar sambil bilang, “Astagfirullah...”.  Walhasil, gaya rambut pun tak keruan. Tapi siapa berani protes sama tukang cukur mantan jawara?

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page