top of page

Cerita di Balik Sinetron Si Doel Anak Sekolahan

Banyak kampung Betawi di Jakarta yang hilang, bersalin rupa menjadi bangunan-bangunan modern simbol kota metropolitan. Sinetron Si Doel Anak Sekolahan mengkritiknya meski nyaris gagal lulus sensor.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Adegan keluarga Sabeni berziarah ke makam leluhur di Stadion Senayan dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan. (Dok. RCTI).

1 hari yang lalu
4 menit membaca

MESKI sudah lulus kuliah dan meraih gelar insinyur, Doel (diperankan Rano Karno) tak kunjung mendapat pekerjaan. Sabeni (Benyamin S), ayah Doel, gelisah bukan kepalang lantaran sudah menghabiskan banyak harta untuk menyekolahkan Doel. Leila (Aminah Cendrakasih) lantas menyarankan Sabeni berziarah ke makam leluhur. Begitulah tradisi Betawi kaulan, yaitu janji untuk menunaikan nazar atas berkah yang dirindukan.


Sabeni setuju usulan istrinya. Keesokan hari, oplet, kendaraan andalan keluarga Sabeni, mengantar rombongan ke Senayan. Mereka antara lain Sabeni, Leila, Engkong Ali (mertua Sabeni diperankan Haji Tile), Mandra (adik ipar Sabeni), Doel, dan Atun (putri bungsu Sabeni diperankan Suti Karno). Mandra bahkan membawa teko berisi kopi sebagai suguhan saat ziarah. Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Stadion Istora Senayan (kini Gelora Bung Karno). Lanjut kemudian ke lapangan golf Senayan, tempat ayah Sabeni dimakamkan.


Setibanya di Stadion Senayan, Sabeni sekeluarga menggelar tikar. Sabeni lantas berkisah di tempat itulah dirinya dilahirkan. Di sudut sana dia bilang dulu ada pohon gatet. Di sudut lain ada tempat jamban. Tiba-tiba, seorang pelatih sepakbola datang mengusir mereka karena lapangan sedang dipakai untuk latihan.


“Ape lu, mau ikut kaulan? Ayo ke sini,” kata Engkong Ali.


“Bapak nggak boleh di sini,” hardik pelatih.


“Emang ngapa sih nggak boleh, sombong amat,” sahut Mandra.


“Anda nggak lihat kita sedang latihan,” bentak pelatih.


“Sebentar, mau kaulan,” timpal Sabeni.


Tak ingin terjadi keributan, Doel membujuk Sabeni untuk lekas pulang. Mereka pun bergegas. Tapi, Sabeni masih dongkol. Sebelum meninggalkan lapangan, dia menghampiri pelatih dan menyampaikan kata-kata menohok tepat di depan mukanya.


“Latihan... latihan... Latihan mulu menang kagak,” ejek Sabeni yang seolah-olah mencerminkan prestasi sepakbola nasional.


Adegan keluarga Sabeni ziarah ke Senayan itu selalu membekas dalam sinetron keluarga Si Doel Anak Sekolahan yang tayang pada 1990-an. Selain mencerminkan budaya dan tradisi keluarga Betawi, adegan itu juga sarat kritik sosial. Banyak kampung asli Betawi yang telah hilang di Jakarta, bersalin rupa menjadi bangunan-bangunan modern simbol kota metropolitan. Begitu pula dengan ruang-ruang dan interaksi budaya yang mulai hilang ditelan zaman.


“Di era Orde Baru itu kan represi terhadap kritik sosial sangat keras. Adegan ziarah ke Senayan itu nyaris tidak tayang,” kata Harry Tjahjono, penulis cerita skenario Si Doel dalam peluncuran bukunya, Si Doel Anak Sekolahan: Filosofi Orang Kampung di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin, Jakarta, 12 September 2026.


Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, yang dikenal sebagai Doel, tokoh dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan. (Martin Sitompul/Historia.ID).
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, yang dikenal sebagai Doel, tokoh dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan. (Martin Sitompul/Historia.ID).

Menurut Rano Karno, aktor utama sekaligus sutradara Si Doel, kisah Si Doel sebenarnya sudah tamat pada episode pertama begitu Si Doel mendapatkan gelar sarjana. Namun, di tangan Harry Tjahjono, cerita Si Doel terus bergulir dari episode ke episode. Hingga akhirnya 78 episode dalam empat musim, Harry menukangi jalannya cerita Si Doel.


“Seorang Harry Tjahjono-lah yang bisa menemukan [karakter] Karyo (Basuki), Atun, Zaenab (Maudy Koesnaedy), Pak Bendot, Rodiyah (Nacih), Engkong Tile, Engkong Caak (Bodong). Jadi, Harry Tjahjono yang menciptakan kampung di Si Doel,” kata Rano Karno yang kini menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta.


Rano mengenang, cerita Si Doel sedemikian kompleks karena banyak adegan-adegan yang terjadi di luar skenario. Itulah yang membuat penulis skenario bekerja keras untuk menyambungkan cerita di luar skenario sesuai dengan skenario Si Doel. Misalnya, dialog Sabeni yang menginginkan Doel sekali-kali jadi gubernur, yang justru terjadi di kehidupan nyata Rano Karno. Begitu pula dengan karakter-karakter unik seperti Engkong Ali, Nyak Rodiah, dan Pak Bendot yang buta huruf.


“Jadi kalau syuting mereka bertiga, saya enggak pakai cut. Biarin dia capek sendiri, sampai dia bilang, kapan cut-nya nih,” tutur Rano.


Ketika tayang di RCTI pada 1994, Si Doel langsung menyedot perhatian penonton. Tak hanya menawarkan cerita drama keluarga dan komedi, ia juga memotret kehidupan keluarga Betawi dengan segala interaksi budayanya yang khas. Begitu pula suasana kampung Betawi yang saat ini sudah jarang ditemukan, termasuk jadi sorotan dalam latar Si Doel.


Peluncuran buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis cerita skenario Si Doel Anak Sekolahan di PDS H.B. Jassin Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, 12 September 2026. (Martin Sitompul/Historia.ID).
Peluncuran buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis cerita skenario Si Doel Anak Sekolahan di PDS H.B. Jassin Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, 12 September 2026. (Martin Sitompul/Historia.ID).

Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra menyebut fenomena Si Doel berhasil membuat “gaduh” masyarakat sejak awal penayangannya. Saat itu, Yahya menjadi guru ngaji, mendapati anak-anak didiknya pada ngacir saban kali mendekati jam tayang Si Doel. Ternyata, mereka bolos ngaji demi meluangkan waktu nonton sinetron Si Doel.


“Itu anak-anak yang biasa rutin ngaji mangkir semua karena dia nonton Si Doel. Itu yang paling kacau tuh dari Si Doel. Sehingga, yang saya lakuin terpaksa, yang seharusnya ngaji sehabis sembahyang Magrib kita ubah menjadi abis sembahyang Ashar,” terang Yahya.


Kendati demikian, kisah Si Doel ditulis bukan tanpa tujuan. Menurut Harry, Si Doel ditulis agar orang Betawi tak menjadi tamu di rumahnya sendiri. Itulah sebabnya, nuansa Betawi sangat kental ditampilkan, mulai dari percakapan, latar, tradisi, hingga musik. Seiring makin banyaknya kampung Betawi yang hilang, tayangan Si Doel Anak Sekolahan selalu dirindukan sebagai wahana ruang nostalgia.


“Yang sangat kehilangan kita adalah kampung. Sedih saya melihat tontonan kita nggak pernah ada nuansa kampung. Saya nggak menganggap Si Doel itu baik, tapi Si Doel itu hidup. Ibu bapak akan mendengar atmosfer suara radio RRI, ada ayam, ada burung, lagu dangdut. Kesannya di rumah Si Doel kayak ada di dalam kampung. Nonton sinetron sekarang, ibu nggak akan dapat suasana kampung. Itulah yang hilang,” tutup Rano.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page