top of page

Identitas Brontë Bersaudara

Karya-karya ikonik dari Brontë bersaudara sudah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Namun, ketika awal diterbitkan di Inggris, mereka menggunakan nama pena laki-laki demi menghindari prasangka.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Anne, Emily, dan Charlotte Brontë dalam lukisan karya saudara mereka, Branwell, sekitar 1834 (Sumber: Wikimedia Commons, dipotong dari aslinya)

8 menit yang lalu
8 menit membaca

JAUH sebelum novel pertamanya terbit, Charlotte Brontë pernah mengirimkan surat dan puisi-puisi karyanya kepada penyair terkemuka Robert Southey pada 29 Desember 1836. Dia berharap memperoleh masukan. Balasan surat tiba namun isinya mengejutkan. Kendati dinilai memiliki “kemampuan berpuisi”, Charlotte diminta untuk tidak melanjutkan niatnya untuk mengejar karier di bidang sastra.


“Sastra tidak bisa menjadi fokus utama di dalam hidup seorang perempuan, dan memang seharusnya tidak demikian,” tulis Southey dalam surat balasannya kepada Charlotte tertanggal 12 Maret 1837, dikutip Elizabeth Gaskell dalam The Life of Charlotte Brontë.


Jawaban itu terdengar kejam. Tapi begitulah sudut pandang yang dominan dan dipengaruhi oleh nilai-nilai era Victorian.


Penulis perempuan bukanlah sesuatu yang lazim di masyarakat pada saat itu. Dunia buku dan kepenulisan didominasi hampir seluruhnya oleh laki-laki. Bahkan, perempuan yang bermimpi untuk menjadi penulis seringkali dicegah dan diyakinkan untuk mengubur mimpinya. Memang ada segelintir perempuan yang menjadi penulis, namun topik yang diizinkan hanya sebatas tentang agama, cerita anak-anak atau rumah tangga, dan fiksi romantis yang ringan.


Charlotte, yang saat itu berusia 20 tahun dan bekerja sebagai guru, senang membaca balasan surat itu. Dia membalas surat Southey dengan sangat sopan dan berterima kasih atas nasihatnya. Bahkan, dia menulis, "Ayahku memberiku nasihat yang sama seperti yang Anda berikan."


Kendati demikian, Charlotte tak langsung menyerah. Hasrat menulis Charlotte dan saudari-saudarinya (Emily dan Anne) tak bisa dibendung. Untuk menyiasati prasangka gender di masa itu, mereka menggunakan nama pena pria: Charlotte Brontë menjadi Currer Bell, Emily Brontë menjadi Ellis Bell, dan Anne Brontë menjadi Acton Bell.

Dengan nama pena itulah, karya mereka terbit dan memperoleh pengakuan sebagai sastra klasik Inggris.


Putri Pendeta

Charlotte, Emily, dan Anne adalah anak dari pasangan Patrick Brontë dan Maria Brontë yang tinggal di sebuah desa bernama Haworth di West Riding of Yorkshire, Inggris. Umur mereka berjarak sekitar dua tahun: Charlotte lahir 21 April 1816, Emily 30 Juli 1818, dan Anne 17 Januari 1820. Tiga saudaranya yang lain adalah Maria, Elizabeth, dan Branwell.


Sang ayah, Patrick Brontë, adalah seorang pendeta Anglikan asal Irlandia yang berasal dari keluarga miskin namun berhasil kuliah di University of Cambridge karena kecerdasannya. Patrick adalah sosok yang eksentrik, berwawasan luas, dan menyukai dunia tulis-menulis (ia sendiri menerbitkan beberapa puisi dan esai).


Sang ibu, Maria Brontë, berasal dari keluarga mapan di Cornwall dan merupakan perempuan terpelajar yang menyukai kisah-kisah Gothic. Tragisnya, Maria meninggal akibat kanker pada 1821, tepat ketika putri bungsunya, Anne, baru berusia 20 bulan. Setelah kematian ibunya, mereka diasuh oleh sang ayah dan bibi mereka, Elizabeth Branwell.


Belum terlalu lama sejak Maria meninggalkan keluarga Brontë, duka kembali datang. Mereka kehilangan dua kakak tertua mereka, Maria dan Elizabeth, yang meninggal dunia akibat TBC pada 1825. Sejak itu, Charlotte, Branwell, Emily, dan Anne dididik ayahnya di rumah.


Rumah mereka terletak di tepi dataran tinggi Yorkshire yang luas, sepi, dan berangin kencang. Mereka jarang berinteraksi dengan anak-anak lain di luar rumah. Namun, hidup terisolasi di desa terpencil justru memaksa Brontë bersaudara mencari pelarian ke dalam dunia literasi. Kebebasan membaca dan menulis yang diberikan oleh sang ayah menjadi dorongan bagi energi kreatif mereka.


“Tinggal di daerah terpencil, di mana pendidikan sangat sedikit kemajuannya, dan karenanya tidak ada dorongan untuk mencari pergaulan sosial di luar lingkaran keluarga kami sendiri, kami sepenuhnya bergantung pada diri sendiri dan satu sama lain, pada buku dan belajar, untuk kesenangan dan kesibukan hidup. Dorongan tertinggi, sekaligus kesenangan terbesar yang pernah kami rasakan sejak kecil, terletak pada usaha menulis,” catat Charlotte dalam “Biographical Notice of Ellis and Acton Bell”, kata pengantar yang ditulis tahun 1850 untuk edisi anumerta gabungan novel cetakan ulang novel Wuthering Heights karya Emily dan Agnes Grey karya Anne.


Suatu hari, pada musim gugur tahun 1845, secara tidak sengaja Charlotte menemukan buku catatan puisi rahasia milik Emily. Charlotte membacanya dan kagum dengan keindahan puisi Emily. “Aku menganggapnya padat dan singkat, kuat dan jujur. Di telingaku, mereka juga memiliki musik yang unik –liar, melankolis, dan mengangkat semangat.”


Sementara itu, Anne juga menghasilkan beberapa puisi dan menawarkan Charlotte untuk melihat karyanya. “Aku tidak bisa tidak menjadi hakim yang sedikit memihak, tapi aku pikir puisi-puisi ini juga memiliki kesedihan yang manis dan tulus dengan cara mereka sendiri,” catat Charlotte.


Butuh waktu berhari-hari bagi Charlotte untuk meyakinkan Emiluy bahwa puisi-puisi itu layak diterbitkan. Akhirnya, bersama Anne, Charlotte berhasil membujuk Emily untuk menerbitkannya bersama-sama.


Alih-alih menggunakan nama asli, mereka memilih nama pena laki-laki. Charlotte memakai nama Currer, Emily memilih Ellis, dan Anne memilih Acton. Nama keluarga pun disamarkan menjadi Bell. Alasannya, selain menghindari publisitas pribadi, mereka tak suka menampilkan diri sebagai perempuan.


"Kami merasa penulis perempuan sering dipandang dengan prasangka. Kami menyadari para kritikus terkadang mengkritik dengan cara menyerang pribadi si penulis, atau memuji si penulis padahal pujian tersebut tidak tulus," ungkap Charlotte.


Pada Mei 1846, mereka menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul Poems by Currer, Ellis, and Acton Bell. Penerbitannya didanai sendiri oleh mereka menggunakan uang warisan dari bibi mereka. Buku ini memuat total 61 puisi, dengan pembagian Charlotte menyumbang 19 puisi, sedangkan Emily dan Anne masing-masing menyumbang 21 puisi.

Sayangnya, karya puisi ketiga saudari ini tidak laku. Angka penjualannya hanya bisa dihitung dengan jari. Namun, Brontë bersaudara tak menyerah.


Cover buku karya masing-masing Brontë bersaudara.
Cover buku karya masing-masing Brontë bersaudara.

Karya Tiga Saudari

Kegagalan proyek puisi mereka justru membakar semangat. Mereka kemudian beralih dan mendedikasikan waktu untuk menulis novel prosa. Mereka kemudian menawarkan tiga manuskrip novel pertama mereka. Tiga novel tersebut adalah The Professor oleh Charlotte (Currer Bell), Wuthering Heights oleh Emily (Ellis Bell), dan Agnes Grey oleh Anne (Acton Bell).


Naskah-naskah ini terus-menerus diajukan ke berbagai penerbit di London selama satu setengah tahun. Hasilnya? Ditolak. Namun, sebuah penerbit bernama Thomas Cautley Newby akhirnya bersedia menerbitkan novel Emily dan Anne, tapi menolak novel Charlotte.


Kendati novelnya ditolak, Charlotte mendapat surat penolakan yang membangun dari penerbit lain, Smith, Elder & Co. Penerbit tersebut mengatakan mereka tertarik jika "Currer Bell" memiliki karya lain yang lebih panjang dan penuh aksi.


Charlotte yang saat itu baru saja menyelesaikan Jane Eyre langsung mengirimkannya. Penerbit tersebut takjub dan menerbitkannya pada Oktober 1847. Jane Eyre langsung menjadi bestseller dan sukses besar secara instan.


Melihat kesuksesan Jane Eyre (oleh Currer Bell), penerbit Thomas Cautley Newby buru-buru mencetak Wuthering Heights dan Agnes Grey pada Desember 1847 untuk mendompleng popularitas nama "Bell".


Jane Eyre bercerita tentang karakter utama seorang anak yatim piatu bernama Jane Eyre, yang mengalami banyak kesulitan sejak kecil hingga dewasa. Jane harus berjuang sepanjang hidupnya, terutama melawan kemiskinan, penindasan, dan kungkungan status sosial. Karakter Jane digambarkan sebagai seorang perempuan yang mandiri, berani menentang norma sosial, dan menjunjung tinggi kesetaraan.


Wuthering Heights jauh lebih gelap. Kisah antara tokoh utama Catherine dan Heathcliff merefleksikan hubungan cinta yang obsesif dan destruktif. Ceritanya sarat akan tema balas dendam dan kedengkian yang diturunkan dari generasi satu ke generasi lainnya. Masalah pelik yang ditimbulkan perbedaan kelas dan status sosial juga menjadi salah satu dasar penopang cerita.


Wuthering Heights awalnya menuai kecaman karena ceritanya dianggap terlalu brutal dengan perilaku amoral para karakternya, serta permainan psikologis yang gelap dan tabu. Namun, seiring waktu novel ini mendapatkan apresiasi atas ceritanya yang multidimensional dengan penggambaran emosi tiap karakternya yang mendalam. Tak ayal, Wuthering Heights dianggap sebagai salah satu novel terbaik dan paling berpengaruh dalam literatur Inggris.


Sementara Agnes Grey mengeksplorasi tema tentang pekerjaan governess (pengasuh sekaligus guru) di zaman Victoria. Novel ini juga menggambarkan kebobrokan yang ditimbulkan oleh perbedaan kelas dan status sosial terutama di kalangan keluarga kaya.

Berbeda dari buku puisi mereka, tiga novel debut dari Brontë bersaudara ini mendapat reaksi yang luar biasa. Karya mereka sangat populer dan laris manis, bahkan menarik perhatian para kritikus sastra.


Menguak Tabir

Karena kesuksesan novel-novel Brontë bersaudara, publik Inggris mulai berspekulasi. Banyak yang mengira bahwa Currer, Ellis, dan Acton Bell adalah satu orang pria yang sama, karena gaya menulis mereka yang sama-sama kuat. Bahkan, ketika menerbitkan novel kedua Anne berjudul The Tenant of Wildfell Hall, penerbit Thomas Cautley Newby mengklaim kepada sebuah penerbit di Amerika Serikat bahwa novel tersebut adalah karya Currer Bell atau Charlotte.


Kebohongan Newby jelas mengancam kehormatan dan integritas sastra Brontë bersaudara. Kesal dengan rumor dan kecurangan tersebut, pada Juli 1848, Charlotte dan Anne pergi ke London untuk mendatangi kantor penerbit Smith, Elder & Co. Di sana, mereka mengungkap identitas asli mereka sebagai perempuan dan membuktikan bahwa “Bell beraudara” adalah tiga orang yang berbeda.


Rumor itu menjadi titik balik krusial bagi Brontë bersaudara untuk membuka tirai misteri mengenai identitas asli di balik mahakarya mereka.


Charlotte membantah bahwa semua karya yang diterbitkan dengan nama Currer, Ellis, dan Acton Bell adalah hasil karya satu orang. Dalam pengantar singkat pada edisi ketiga Jane Eyre, yang terbit pada April 1848, dia (Currer Bell) menjelaskan bahwa, “klaim saya atas gelar novelis didasarkan pada karya ini saja. Karena itu, jika kepengarangan karya fiksi lain telah dikaitkan kepada saya, suatu kehormatan diberikan di tempat yang tidak pantas; dan akibatnya, ditolak di tempat yang seharusnya.”


Anne melakukan hal yang sama. Sekalipun terpukul, Anne tak mengikuti saran Charlotte untuk memutuskan hubungan dengan Newby dan pindah ke penerbit Smith, Elder & Co. Dia menolak melanggar kontrak. Sebagai gantinya, dia menuntut Newby untuk menyertakan kata pengantar baru pada cetakan edisi kedua guna meluruskan segalanya.


Dalam kata pengantar tersebut, yang terbit Agustus 1848, Anne tidak hanya meluruskan masalah identitas nama pena "Bell bersaudara", tapi juga membalas kritik yang menyebut novelnya tidak pantas ditulis oleh seorang perempuan. Dia menegaskan bahwa pembaca harus menilai karya dari isinya, bukan dari jenis kelamin sang penulis.


“Mengenai identitas penulis, saya ingin agar dipahami dengan jelas bahwa Acton Bell bukanlah Currer maupun Ellis Bell, dan oleh karena itu jangan sampai kesalahannya dikaitkan kepada mereka. Mengenai apakah nama itu asli atau fiktif, hal itu tidak terlalu penting bagi mereka yang hanya mengenalnya melalui karya-karyanya. Menurut saya, sama tidak pentingnya apakah penulis yang disebut demikian adalah seorang lelaki atau perempuan, seperti yang diklaim oleh satu atau dua kritikus.”


“Saya yakin bahwa jika sebuah buku itu bagus, maka buku itu tetap bagus terlepas dari jenis kelamin penulisnya. Semua novel ditulis, atau seharusnya ditulis, untuk dibaca oleh lelaki dan perempuan, dan saya bingung bagaimana seorang lelaki dapat membiarkan dirinya menulis sesuatu yang benar-benar memalukan bagi seorang perempuan, atau mengapa seorang perempuan harus dicela karena menulis sesuatu yang pantas dan sesuai untuk seorang lelaki.”


Namun, upaya Charlotte dan Anne tetap gagal meyakinkan orang.


Di tengah kesuksesan novel Brontë bersaudara, kemalangan menyelimuti keluarga ini. Hampir seluruh keluarga Brontë berumur pendek dan meninggal karena penyakit tuberkulosis. Branwell, satu-satunya anak laki-laki di keluarga ini, meninggal pada 24 September 1848. Emily meninggal pada 19 Desember 1848 di usia 30 tahun. Sedangkan Anne meninggal beberapa bulan kemudian, yakni pada 28 Mei 1849 di usia 29 tahun.


Setelah kepergian Emily dan Anne, Charlotte mencoba menghapus kabut yang menyelimuti nama Ellis dan Acton. Dia menulis pengantar yang ditulis tahun 1850 untuk edisi anumerta gabungan novel cetakan ulang novel Wuthering Heights dan Agnes Grey.

“Misteri kecil yang dulu memberi sedikit kesenangan tak berbahaya, kini sudah kehilangan daya tariknya; keadaannya sudah berubah. Maka, menjadi tugas saya untuk menjelaskan secara singkat asal-usul dan penulis dari buku-buku yang ditulis oleh Currer, Ellis, dan Acton Bell.”


Charlotte mengungkap semuanya. Masa kecil, proses kreatif, karya-karya mereka, kritik terhadap karya mereka, hingga akhir hidup Emily dan Anne yang tragis.


“Saya bisa menyimpulkan semuanya dengan mengatakan, bagi orang asing mereka bukan siapa-siapa, bagi pengamat dangkal kurang dari siapa-siapa; tetapi bagi mereka yang mengenal mereka seumur hidupnya dalam hubungan dekat, mereka sungguh baik dan benar-benar hebat. Mereka adalah sosok yang murni, jujur, dan memiliki keteguhan moral yang luar biasa.”


“Catatan ini ditulis karena saya merasa sebagai kewajiban suci untuk membersihkan debu dari batu nisan mereka, dan meninggalkan nama-nama mereka tercinta bebas dari kotoran.”


Poster film drama biografis Les Sœurs Brontë (1979) yang disutradarai oleh André Téchiné (Sumber: Wikimedia Commons)
Poster film drama biografis Les Sœurs Brontë (1979) yang disutradarai oleh André Téchiné (Sumber: Wikimedia Commons)


Warisan Sastra

Charlotte, yang menjadi satu-satunya saudari yang bertahan hidup lebih lama, berhasil menerbitkan empat novel dengan nama pena Currer Bell. Selain mahakaryanya Jane Eyre, dia menerbitkan Shirley (diterbitkan 1849), Villette (1853), dan The Professor (1857), novel pertamanya yang diterbitkan secara anumerta setelah kematiannya.


Charlotte meninggal dunia pada 31 Maret 1855 di usia 38 tahun, hanya sembilan bulan setelah menikah dengan Arthur Bell Nicholls, asisten pendeta ayahnya. Sertifikat kematian resminya mencatat penyebabnya adalah tuberkulosis. Namun, para pakar medis modern meyakini dia meninggal akibat komplikasi kehamilan.


Tinggallah Patrick Brontë sebatang kara. Di tahun-tahun terakhir hidupnya, Patrick meminta novelis Elizabeth Gaskell untuk menulis biografi resmi putrinya, yang kemudian terbit dengan judul The Life of Charlotte Brontë tahun 1857. Buku inilah yang kali pertama membuka mata dunia tentang kisah hidup keluarga Brontë yang luar biasa. Buku ini juga secara gamblang menceritakan bagaimana Charlotte dan adik-adiknya berjuang mempertahankan identitas mereka di balik nama pena laki-laki.


Patrick Brontë meninggal pada 7 Juni 1861 di usia 84 tahun akibat penyakit bronkitis kronis dan gangguan pencernaan.


Charlotte, Emily, dan Anne meninggal di usia muda. Namun, mereka telah meninggalkan warisan penting bagi dunia sastra. Karya-karya mereka berhasil mendobrak batas kesopanan era Victoria yang kaku. Mereka memadukan kritik sosial atas ketimpangan kelas, kekangan terhadap perempuan, dengan atmosfer psikologis yang gelap. Gaya penulisan ini menjadi cetak biru (blueprint) bagi ribuan novel romansa misteri dan fiksi psikologis modern.


Warisan mereka terus hidup melalui adaptasi film, serial televisi, teater musikal, hingga budaya pop. Rumah mereka di Haworth, Yorkshire, kini menjadi Brontë Parsonage Museum, dan sering dikunjungi oleh ratusan ribu “peziarah sastra” setiap tahunnya.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page