JAUH sebelum novel pertamanya terbit, Charlotte Brontë pernah mengirimkan surat dan puisi-puisi karyanya kepada penyair terkemuka Robert Southey pada 29 Desember 1836. Dia berharap memperoleh masukan. Balasan surat tiba namun isinya mengejutkan. Kendati dinilai memiliki “kemampuan berpuisi”, Charlotte diminta untuk tidak melanjutkan niatnya untuk mengejar karier di bidang sastra.
“Sastra tidak bisa menjadi fokus utama di dalam hidup seorang perempuan, dan memang seharusnya tidak demikian,” tulis Southey dalam surat balasannya kepada Charlotte tertanggal 12 Maret 1837, dikutip Elizabeth Gaskell dalam The Life of Charlotte Brontë.
Jawaban itu terdengar kejam. Tapi begitulah sudut pandang yang dominan dan dipengaruhi oleh nilai-nilai era Victorian.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















