KAWASAN Waterloo dekat Brussel, ibu kota Belgia, menjadi saksi fenomena mengunjungi tempat bersejarah dan antusiasme masyarakat berburu benda antik. Ribuan orang dari berbagai negara Eropa datang ke sana setiap tahun, untuk melihat langsung lokasi pertempuran yang berujung kekalahan Napoleon Bonaparte tahun 1815.
Kesuksesan pasukan sekutu, gabungan berbagai prajurit dari Inggris, Belanda, Belgia, dan Jerman, dalam menundukkan Napoleon, segera disusul oleh wisatawan Inggris yang hendak melihat langsung lokasi pertempuran bersejarah tersebut.
Kemenangan pasukan Inggris diabadikan menjadi mitos nasional, tak heran bila Waterloo menjadi tujuan wisata wajib paling populer sepanjang abad ke-19. Para pelancong berduyun-duyun, dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya, menelusuri jejak-jejak yang ditinggalkan Napoleon di Eropa.
“Kapal-kapal berlayar setiap hari, dipenuhi para pria dan wanita terkemuka dengan penampilan modis... yang pergi bukan sekadar ke medan perang, melainkan untuk melakukan perjalanan wisata yang trendi. Bahkan, bagi mereka yang tidak memiliki biaya untuk melakukan perjalanan itu, sejarah tetap dibawa ke hadapan mereka, di mana kereta kuda Napoleon dibawa berkeliling dari London ke Edinburgh,” tulis Amelia Soth dalam “Souvenir Hunting on the Battlefield of Waterloo,” termuat di JSTOR, 20 Januari 2026.
Tokoh-tokoh seni dan sastra terkemuka paling antusias dalam mempopulerkan tren mengunjungi lokasi pertempuran Waterloo. Mereka mendatangi titik-titik yang menyimpan jejak peristiwa pertempuran bersejarah itu, dan mengabadikannya dalam puisi, prosa, dan lukisan.
Di Waterloo, para wisatawan yang antusias berhadapan dengan sisa-sisa pertempuran yang mengerikan. Mereka mencari landmark yang menjadi saksi perjuangan pahlawan nasionalnya.
Jolien Gijbels mencatat dalam “Tangible Memories: Waterloo Relics in the Nineteenth Century”, termuat di The Rijksmuseum Bulletin, Vol. 63, No. 3, 2015, terdapat perbedaan nasional yang mencolok dalam cara para wisatawan memaknai masa lalu. Politik peringatan di negara asal mereka, yang tercermin dalam berbagai gambaran yang diciptakan tentang peristiwa tersebut, memengaruhi sikap para wisatawan terhadap lokasi pertempuran.
Menang Kalah ke Waterloo
Meskipun Waterloo memainkan peran dalam kesadaran nasional semua negara yang terlibat dalam perang itu, intensitas peringatan dan pentingnya pertempuran bervariasi sesuai dengan situasi politik.
Di Britania Raya dan Kerajaan Belanda, kenangan akan pertempuran berkontribusi terhadap pembentukan identitas nasional. Pada 1815, negara Britania Raya mulai membangun Kekaisaran Britania yang besar. Ambisi negara adidaya yang sedang naik daun itu tercermin dalam mitologisasi Waterloo dan kepahlawanan para komandan militer terkemuka seperti Wellington. Sedangkan bagi pihak Belanda, pertempuran Waterloo berfungsi sebagai mitos pendirian bagi negara yang baru saja terbentuk.
Menariknya, para pelancong yang mengunjungi Waterloo tidak hanya dari pihak yang menang, tetapi juga orang Prancis sebagai pihak yang kalah. Dalam ingatan bangsa Prancis, pertempuran itu tercatat dalam sejarah sebagai kekalahan telak. Oleh sebab itu, orang Prancis memandang kunjungan ke Waterloo sebagai ziarah yang melankolis untuk mengakui masa lalu traumatis yang belum mereka terima sepenuhnya.
“Pengalaman para wisatawan individu mencerminkan kesadaran nasional negara asal mereka. Orang-orang yang merasakan emosi paling intens berasal dari negara-negara di mana kenangan tentang Waterloo merupakan faktor penting dalam membentuk identitas nasional... Para wisatawan tidak hanya menafsirkan medan pertempuran dalam kerangka narasi nasional, tetapi juga bersikap layaknya patriot di medan pertempuran tersebut. Mereka meninggalkan tulisan pribadi di dinding-dinding objek wisata yang biasa dikunjungi,” tulis Gijbels.
Ketika itu lokasi kuburan massal juga terlihat jelas. Mayat-mayat ditimbun dengan tanah secara tergesa-gesa sehingga terbentuk gundukan-gundukan kecil. Bertahun-tahun kemudian, kegiatan membajak tanah masih sering mengungkap kerangka manusia.
Pada 1822, Willem Gerard de Bas tanpa sengaja menemukan jenazah tentara Prancis, lengkap dengan pakaian dan sepatu, yang telah digali oleh petani. Pertemuan dengan jejak kematian dan kehancuran di mana-mana memicu emosi hingga reaksi fisik di kalangan banyak orang.
Minat terhadap peninggalan militer juga sangat besar. Ladang-ladang Waterloo dipenuhi bukti-bukti pertempuran. Pada beberapa bulan pertama, para pengunjung dapat mengambil berbagai macam barang milik para prajurit yang tewas. Para petani setempat juga kemudian menjual barang-barang tersebut.
“Perdagangan peninggalan ini, ditambah dengan perkembangan lain seperti pendirian monumen, pembentukan ruang museum di bangunan-bangunan yang pernah memiliki fungsi penting selama pertempuran, serta kehadiran pemandu untuk menemani pengunjung, merupakan bukti komersialisasi awal medan pertempuran tersebut,” tulis Gijbels.
Buah Tangan dari Waterloo
Fenomena membawa kenang-kenangan dari lokasi pertempuran Waterloo juga terlihat di lokasi berdirinya “Pohon Wellington”. Penyebutan tersebut karena Duke of Wellington, yang memimpin pasukan gabungan tentara sekutu, berdiri di pohon itu ketika pertempuran Waterloo berlangsung. Peran Wellington yang patriotik menyebabkan para pelancong membawa pulang buah tangan dari pohon itu.
Stuart Semmel mencatat dalam “Reading the Tangible Past: British Tourism, Collecting, and Memory after Waterloo”, termuat di Representations No. 69, Special Issue: Grounds for Remembering tahun 2000, ketika John Scott, editor majalah mingguan The Champion, mengunjungi kawasan tersebut pada Juli 1815, peluru meriam dan peluru senapan yang menancap di pohon telah dicabut sebagai kenang-kenangan. Tak sedikit juga yang mengambil cabang pohon itu untuk dibawa pulang.
Apa yang terjadi pada “Pohon Wellington” menggambarkan keterkaitan antara tren mengunjungi tempat bersejarah dengan antusiasme para wisatawan untuk mengoleksi artefak dari Waterloo. Penyair Eaton Stannard Barrett mengaku mengenal seorang pria terhormat yang membawa pulang jempol asli beserta kukunya dari perjalanan wisata ke Waterloo. Buah tangan tersebut disimpan di dalam botol gin.
John Scott sendiri menemukan peluru Inggris seberat dua belas pon di Waterloo dan membawanya berkeliling. Bahkan, Scott membawa pulang baju zirah dan rampasan perang lain dari lokasi pertempuran tersebut.
Permintaan akan suvenir mengubah perekonomian di sekitar Waterloo. Menurut Soth, pada 1830-an beredar rumor mengenai produksi massal artefak terkait pertempuran Waterloo. Barang-barang itu dibawa ke Waterloo untuk ditanam, lalu digali kembali dan dijual dengan harga tinggi sebagai kenang-kenangan dari lokasi pertempuran bersejarah itu.
“Dalam lingkungan seperti ini, keaslian medan pertempuran yang masih utuh, yang dulu membuat para pengunjung awal takjub, tidak bisa bertahan lama. Sebuah kapel di lokasi perang begitu sering dicoret-coret dengan nama-nama pengunjung sehingga harus dicat putih seluruhnya setiap lima tahun sekali. Pohon Elm Waterloo, di mana di bawah naungannya Duke of Wellington merencanakan strategi, lalu selamat dari pertempuran dan menjadi simbol harapan yang abadi, pada akhirnya ditebang pada 1830 dan diubah menjadi kotak tembakau serta kotak tusuk gigi,” tulis Soth.*













Komentar