top of page

Bukan Sekadar Onderdaan

Sejak lama orang-orang Tionghoa dibatasi dalam urusan politik. Mereka tak surut langkah.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Para anggota partai menemui Dr. Sun Yat Sen saat kembali ke China setelah Revolusi Xinhai, 1911. (sonbun.or.jp).

4 Jun 2025
4 menit membaca

Diperbarui: 20 Nov 2025

KEBIJAKAN diskriminatif dan pembatasan yang diambil pemerintah kolonial Belanda mendorong orang-orang Tionghoa membentuk perkumpulan. Revolusi Dr. Sun Yat Sen turut menumbuhkan rasa nasionalisme orang-orang Tionghoa. Pada 17 Maret 1900, terbentuklah Tiong Hoa Hwee Koan (THHK), organisasi modern pertama yang mendorong orang Tionghoa di Hindia untuk mengenal identitasnya. Kemudian diikuti Siang Hwee atau semacam kamar dagang (1908), Soe Po Sia (1908), dan Sin Po (1910).

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page