top of page

Jejak Saudara dari Daratan

Jauh sebelum Indonesia berdiri, orang-orang Tionghoa telah menjalin relasi dengan orang-orang di Nusantara.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Replika kapal Cheng Ho. (navsource.org).

3 Jun 2025
4 menit membaca

Diperbarui: 20 Nov 2025

DALAM perjalanannya ke India pada abad ke-4 Masehi, Fa Hien, pendeta Buddha Tionghoa, mengunjungi Jawa. Setelah itu, banyak pendeta Tionghoa yang mengikuti jejaknya. “Hingga abad ketujuh hanya pendeta Buddha Tionghoa dalam perjalanan suci ke India yang mengunjungi Sriwijaya,” tulis Slamet Muljana dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page