top of page

Bung Karno di Rio de Janeiro

Di ibu kota lama Brasil, Bung Karno diterima dengan hangat sebagai pemimpin dari Asia pertama yang berkunjung. Tonggak penting hubungan diplomatik Indonesia-Brasil.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Presiden Sukarno di pangkalan udara Galeao, Rio de Janeiro, 21 Mei 1959. Tampak Presiden Brazil Juscelino Kubitschek menyertai keberangkatan Bung Karno menuju Buenos Aires, Argentina. Sumber: Perpus Bung Karno.

14 Jun 2024
4 menit membaca

Diperbarui: 17 Mei

BRASIL menjadi negara pertama yang disambangi Presiden Sukarno dalam rangkaian kunjungan kenegaraan ke Amerika Selatan. Waktu itu, ibukota Brasil masih Rio de Janeiro. Rombongan Presiden Sukarno tiba di sana pada 17 Mei 1959.


“Presiden Brasil Juscelino Kubitschek, wakil presidennya, dan seluruh Kabinet Brasilia menyambut kedatangan Presiden Sukarno beserta rombongan di lapangan terbang Rio de Janeiro pada hari Minggu untuk mengadakan kunjungan selama 5 hari di negeri itu,” lansir Harian Umum, 19 Mei 1959.


Keadaan di Brasil kurang begitu baik bertepatan dengan kedatangan Bung Karno. Bukan karena adanya gejolak politik, melainkan terjadinya bencana alam. Banjir besar melanda beberapa daerah di Brasil, juga Uruguay dan Bolivia. Banjir tahun 1959 ini merupakan yang paling besar sejak 25 tahun terakhir. Meski kebanjiran, pemerintah Brasil dan masyarakat Rio tetap antusias menyambut Bung Karno. Selain sebagai tamu penting, sambutan hangat diterima Bung Karno lebih-lebih sebagai pemimpin negara Asia pertama yang ke sana. 

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page