Diperbarui: 16 Sep
WALTRAUD Reski masih berusia 11 tahun ketika kengerian melanda Demmin, kota kecil 220 kilometer di utara Berlin yang jadi tempat tinggalnya, pada 30 April 1945. Kendati belum paham apa yang sebenarnya sedang terjadi, batinnya diliputi ketakutan ketika mendengar derap langkah dan deru kendaraan tempur Tentara Merah memenuhi Demmin.
“Suara ini –tank-tank bergerak masuk– suara yang menakutkan. Setiap kali saya melihatnya dalam sebuah film, sekarang ingatan ini kembali kepada saya,” ujarnya sebagaimana dikutip sejarawan Laurence Rees dalam bukunya yang berjudul Their Darkest Hour: People Tested to the Extreme in WW II.
Sebagaimana warga Demmin umumnya, ketakutan Waltraud timbul akibat berbulan-bulan terus dicekoki berita propaganda oleh pemerintah Jerman-Nazi. Sejak Jerman kalah di Stalingrad, Menteri Propaganda Joseph Goebbels selalu mempropagandakan kengerian yang bakal diterima rakyat Jerman apabila tentara Soviet mencapai tempat tinggal mereka. Dalam pidatonya Goebbels menyatakan begitu “Gerombolan Bolshevik Mongol” –demikan julukan kaum fasis terhadap pasukan Soviet– tiba, mereka akan membumihanguskan kota-kota Jerman yang dilalui, membiarkan penduduk kelaparan, mengirim penduduk kerja paksa ke tundra, dan memerintahkan eksekusi massal. Para prajurit Soviet juga bakal menjarah apa saja yang mereka temui, menyiksa anak-anak sebelum membunuh mereka, dan memperkosa perempuan-perempuan yang ada.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















