Diperbarui: 1 Okt
SORAK sorai dan tepuk tangan penonton memenuhi ruangan pertunjukkan di gedung Munchener Kunstlerhaus, Munich, Jerman, pada 1939, setelah rombongan Dardanella selesai mementaskan “Si Bongkok”, salah satu lakon paling populer dari rombongan sandiwara ini.
The Malay Opera Dardanella merupakan salah satu rombongan teater paling bersinar di pertengahan pertama abad ke-20. Dardanella disebut sebagai perintis teater Indonesia modern karena menampilkan pertunjukan dengan pendekatan baru yang dinilai lebih sesuai dengan selera zaman. Rombongan sandiwara ini dimotori oleh Andjar Asmara, Astaman, Ferry Kok, Miss Dja, Miss Riboet II, dan Tan Tjeng Bok yang dijuluki “Java’s Big Five” atau “Dardanella’s Big Five”.
Sejarawan Jaap Erkelens membahas tuntas sejarah Dardanella dan perkembangan kesenian teater Indonesia yang diawali dengan kehadiran lakon stambul di Hindia Belanda dalam buku Dardanella: Perintis Teater Indonesia Modern Duta Kesenian Indonesia Melanglang Buana yang baru terbit oleh Penerbit Buku Kompas (2022). Buku berukuran besar ini diperkaya dengan foto-foto pemeran dan pertunjukan, berita koran, guntingan iklan, dan dilengkapi CD berisi lagu-lagu Dardanella. Buku setebal 500 halaman ini menjadi rujukan utama sejarah Dardanella.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















