top of page

Sandiwara Dardanella Diawasi Intel Belanda

Kelompok sandiwara Dardanella mementaskan berbagai lakon yang mengangkat isu-isu sosial di masyarakat. Sejumlah lakonnya menjadi sorotan intel Belanda.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 9 Jul 2024
  • 4 menit membaca

MEMASUKI abad ke-20, semangat nasionalisme tumbuh subur di kalangan generasi muda Hindia Belanda. Gagasan kebangsaan muncul seiring meningkatnya kesadaran akan dampak kolonialisme Belanda. Kesadaran ini tak hanya mendorong lahirnya berbagai organisasi untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia, tetapi juga disebarluaskan kepada masyarakat melalui cerita-cerita di panggung sandiwara.


Dardanella memanfaatkan panggung sandiwara sebagai media propaganda untuk menumbuhkan gagasan kebangsaan. Kelompok sandiwara yang dipimpin A. Piedro ini kerap mementaskan lakon yang bermuatan kritik sosial maupun sindiran terhadap pemerintah kolonial. Salah satunya adalah Annie van Mendut (Annie dari Mendut) karya R. Soedarmo, direktur majalah mingguan De Samenwerking di Semarang.


Annie, diperankan Miss Riboet II, merupakan siswi berusia 14 tahun. Ia menentang kehendak orang tuanya yang menikahkannya dengan pengacara muda bernama Raden Andogo. Namun, Annie tak dapat berbuat banyak. Ia harus menuruti keinginan orang tuanya.



Sementara itu, didorong oleh temannya, Swart, Andogo kemudian meninggalkan Annie dan anaknya untuk belajar hukum di Belanda. Selama menempuh pendidikan di Belanda, dia tak pernah mengabari Annie. Bertahun-tahun berlalu, Andogo akhirnya berhasil meraih gelar sarjana hukum dan kembali ke Indonesia.


Sekembalinya ke tanah air, Andogo mengirim surat kepada Annieuntuk memberitahu bahwa dirinya telah kembali ke Jawa. Namun, ia pulang dengan membawa istri baru, seorang wanita Belanda bernama Louise. Hubungan Andogo dan Louise tak bertahan lama karena Swart menyukai istri kawannya itu. Pasangan itu pun berpisah, Andogo kembali pada Annie dengan rasa malu dan bersalah, sementara Swart menikahi Louise.


Andogo (diperankan oleh Astaman, kiri) dan Annie (diperankan Miss RIboet II, kanan) tampak didamaikan oleh putri mereka (diperankan oleh Miss Dja, tengah) dalam lakon Annie van Mendut yang ditampilkan di Batavia pada tahun 1930. Dardanella rutin mempertunjukkan lakon ini di setiap penampilannya hingga akhir tahun 1935. (Spaarnestad Photo/Het Geheugen).
Andogo (diperankan oleh Astaman, kiri) dan Annie (diperankan Miss RIboet II, kanan) tampak didamaikan oleh putri mereka (diperankan oleh Miss Dja, tengah) dalam lakon Annie van Mendut yang ditampilkan di Batavia pada tahun 1930. Dardanella rutin mempertunjukkan lakon ini di setiap penampilannya hingga akhir tahun 1935. (Spaarnestad Photo/Het Geheugen).

Menurut Jaap Erkelens dalam Dardanella: Perintis Teater Indonesia Modern, Duta Kesenian Indonesia Melalang Buana, Annie van Mendut tak hanya mengandung pesan bahwa zaman telah berubah dan kebiasaan lama, seperti pernikahan yang diatur oleh orang tua harus ditinggalkan, tetapi melalui karyanya itu juga, Soedarmo yang dikenal pula sebagai pendiri dan guru pada Hollandsch-Inlandsche School “Mardi Siswo” di Semarang, hendak menggambarkan bagaimana seorang manusia menjadi terasing dari bangsanya sendiri setelah mengenyam pendidikan Barat.


Annie van Mendut, yang mulai dipentaskan pada 1929, tak hanya mendapat respons positif dari penonton, tetapi juga menuai pro dan kontra. “Pada akhir Mei 1931, tersiar desas-desus di Padang kalau lakon Annie van Mendut yang dipentaskan untuk pertama kali di Padang tanggal 22 Mei mengandung maksud politik serta penghinaan terhadap orang Eropa di Hindia Belanda. Andjar Asmara yang menilai rumor ini muncul karena kesalahpahaman segera memasang iklan di surat kabar untuk membantah rumor itu, sekaligus memberitahukan pertunjukan ulang untuk lakon tersebut,” tulis Erkelens.



Lakon Annie van Mendut sampai menarik perhatian intel Belanda. Mengutip surat kabar Soemanget, 29 Juni 1932, Erkelens menulis, sebelum menggelar pertunjukan di Bandung, Andjar Asmara diperingatkan oleh Komisaris Politieke Inlichtingendienst (PID, Dinas Intelijen Politik) di Bandung, H.M. Albreghs. Sang komisaris bahkan menghadiri seluruh pertunjukan.


“Menurut surat kabar ini, lakon Annie van Mendut mengkritik orang Indonesia, yang setelah belajar di universitas di Belanda, lantas menghilangkan kebangsaannya, tidak sudi bercampur gaul dengan bangsanya,” tulis Erkelens. “Alasan spesifik bagi Albreghs untuk memberikan peringatan kepada Andjar Asmara mungkin, setidaknya menurut surat kabar ini, ialah sebuah pertanyaan yang diajukan dalam lakon itu, yakni soal ‘apa artinya cinta bangsa’,” tambahnya.


Sejumlah anggota kelompok sandiwara Dardanella tengah mempersiapkan diri sebelum tampil dalam pertunjukan yang diselenggarakan di Batavia pada tahun 1930. (Spaarnestad Photo/Het Geheugen).
Sejumlah anggota kelompok sandiwara Dardanella tengah mempersiapkan diri sebelum tampil dalam pertunjukan yang diselenggarakan di Batavia pada tahun 1930. (Spaarnestad Photo/Het Geheugen).

Pengalaman berhadapan dengan intel Belanda tak hanya sekali dialami Andjar Asmara. Dua tahun setelah peristiwa di Bandung, tangan kanan A. Piedro itu kembali dimintai keterangan oleh intel Belanda ketika Dardanella hendak pentas di Manado pada Juli 1933. Kali ini, mantan pemimpin redaksi majalah film pertama, Doenia Film, itu diinterogasi mengenai lakon ciptaannya berjudul Dr. Samsi.


Pada suatu hari, Soegiat, putra Samsi, mendapat tugas membela Soekaesih yang dituduh membunuh suaminya. Tanpa diketahui Soegiat, ternyata Soekaesih adalah ibu kandungnya yang juga wanita dari masa lalu Samsi. Seiring keberhasilan Soegiat membebaskan Soekaesih dari tuduhan pembunuhan, ia pun akhirnya mengetahui bahwa Samsi merupakan ayah kandungnya, dan dokter itu yang membunuh suami Soekaesih, Leo van den Brink, yang juga rekan kerjanya di rumah sakit.



Lakon-lakon yang ditulis maupun digarap ulang oleh Andjar Asmara bertujuan untuk menarik perhatian kaum intelektual di Hindia Belanda. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikannya di surat kabar Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 30 Oktober 1931. Pria yang lahir dengan nama Abisin Abbas itu mengatakan, sebuah pertunjukan lakon sudah sepatutnya dimanfaatkan juga sebagai sarana edukasi bagi masyarakat.


“Dengan teater pedagogis kita dapat memberikan kepada rakyat apa yang seharusnya kita berikan dengan alat-alat lain, seperti buku-buku, tulisan, koran, dan sebagainya. Sementara dengan buku-buku dan tulisan-tulisan masih menjadi pertanyaan besar apakah mereka akan dibaca, para penonton dari kalangan atas sampai bawah datang ke teater kami untuk bersantai, dan saya tidak bisa membayangkan bidang yang lebih baik untuk pendidikan moral bagi penduduk lokal,” ungkap Andjar Asmara.


Menurutnya, sandiwara atau tonil dapat digunakan sebagai alat untuk pendidikan moral masyarakat, “untuk memperhalus dan mempertinggi budi pekerti, mengasihi sesamanya, menanamkan rasa tanggung jawab, memberantas perjudian, mendiskusikan poligami, mengangkat derajat wanita, dan hal-hal penting lainnya.”*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Beberapa perahu layar berkejaran di lautan lepas. Adu cepat dan ketangkasan membawa hasil bumi Indonesia. Sebuah perlombaan dan tradisi yang tak sepenuhnya hilang.
bg-gray.jpg
Siti Djauhari tak sekadar jadi pelengkap kehidupan Sudiro. Sejak muda aktif di pergerakan, Siti sibuk di organisasi wanita hingga jadi teman curhat Fatmawati.
bg-gray.jpg
Djalimin dihukum 15 tahun penjara karena membunuh orang Belanda yang akan memerkosanya. Pertanyaan seorang anggota DPR RI kepada pemerintah mendorong pembebasannya.
bg-gray.jpg
100 tahun lalu, gempa dahsyat menguncang Sumatra. Bukan hanya mengakibatkan kerusakan parah dan jatuhnya korban jiwa, gempa mengubah wajah bentang alam Dataran Tinggi Padang dalam hitungan detik.
Sudiro dipercaya memimpin Jakarta setelah mempertaruhkan nyawa di Sulawesi. Mengabdi sebagai gubernur yang dipilih rakyat.
Sudiro dipercaya memimpin Jakarta setelah mempertaruhkan nyawa di Sulawesi. Mengabdi sebagai gubernur yang dipilih rakyat.
Sudiro selain mengajar dari satu tempat ke tempat, sedari muda sudah terjun ke dalam dunia pergerakan hingga memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan.
Sudiro selain mengajar dari satu tempat ke tempat, sedari muda sudah terjun ke dalam dunia pergerakan hingga memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan.
Buku fiksi untuk anak-anak. Diterjemahkan ke lebih dari 600 bahasa dan dialek di seluruh dunia. Menempatkannya di posisi kedua sebagai buku paling banyak diterjemahkan setelah Alkitab.
Buku fiksi untuk anak-anak. Diterjemahkan ke lebih dari 600 bahasa dan dialek di seluruh dunia. Menempatkannya di posisi kedua sebagai buku paling banyak diterjemahkan setelah Alkitab.
Iran mengenal sepakbola lewat senjata dan industri minyak. Sejak 1920-an sudah ada pemain Iran di Eropa. Kini langganan tampil Piala Dunia.
Iran mengenal sepakbola lewat senjata dan industri minyak. Sejak 1920-an sudah ada pemain Iran di Eropa. Kini langganan tampil Piala Dunia.
Kapal selam Jepang karam setelah mendapat serangan mendadak dari kapal Amerika Serikat. Legenda menyebut awak kapal Amerika menyerang awak kapal selam Jepang dengan kentang.
Kapal selam Jepang karam setelah mendapat serangan mendadak dari kapal Amerika Serikat. Legenda menyebut awak kapal Amerika menyerang awak kapal selam Jepang dengan kentang.
Intelektualitas Agus Widjojo sudah terlihat sejak menjadi taruna Akabri. Dia dikenal sebagai jenderal reformis yang mendukung reformasi TNI dan supremasi sipil.
Intelektualitas Agus Widjojo sudah terlihat sejak menjadi taruna Akabri. Dia dikenal sebagai jenderal reformis yang mendukung reformasi TNI dan supremasi sipil.
transparant.png
bottom of page