Diperbarui: 27 Sep
DENGAN antusias, pria paruh baya itu berjalan menuju sebuah ruangan tak jauh dari meja kerjanya. Di depan pintu masuk ruangan itu, dia berhenti lalu menunjukkan sesuatu.
“Coba, pernahkah Mas melihat tembok yang tebalnya segini? Ini tembok semua, setebal ini,” ujar Susiyanto, direktur pendidikan dasar dan menengah Yayasan Perguruan Cikini (Percik), kepada Historia.
Dinding tebal yang ditunjukkan Susiyanto itu merupakan dinding asli bangunan sekolah Percik yang masih tersisa. Dinding itu saksi bisu perjalanan sejarah Percik.
Percik mulanya hanya sebuah kursus bahasa Indonesia yang didirikan pada awal masa pendudukan Jepang. Kala itu, pemerintah pendudukan Jepang melakukan pengawaasan ketat terhadap sekolah-sekolah. Sementara sekolah swasta dilarang. Banyak ibu gundah dengan kondisi ini. Salah satunya Ny. Pandoe Soeradhiningrat atau biasa dipanggil Mak Umi, putri bupati Ciamis yang jadi istri wakil kepala Gunseibu Jawa Barat.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















