top of page

Joki dari Penunggang Kuda Pacuan ke Pengerjaan Tugas Orang Lain

Istilah joki mulanya penunggang kuda pacuan. Pemberlakuan aturan three-in-one di Jakarta memunculkan joki three-in-one. Kini dan mungkin sudah sejak lama joki terjadi di dunia pendidikan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Potret pacuan kuda yang diselenggarakan di Palembang sekitar tahun 1915. (KITLV)

  • 25 Jul 2024
  • 5 menit membaca

Diperbarui: 3 Agu

SEJAK beberapa hari terakhir jagat maya dibuat heboh oleh pembahasan mengenai joki tugas di dunia pendidikan. Jasa yang ditawarkan mulai dari membantu mengerjakan tugas pelajaran dari jenjang SMP, SMA, sampai perguruan tinggi, hingga menyusun tugas akhir seperti skripsi. Tak sedikit orang yang menggunakan joki, sebuah tindakan curang dan tidak bertanggung jawab.


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, joki memiliki empat arti: penunggang kuda pacuan; pengatur lagu yang menangani mesin perekam lagu atau piringan hitam (di studio radio atau diskotek); orang yang mengerjakan ujian untuk orang lain dengan menyamar sebagai peserta ujian yang sebenarnya dan menerima imbalan uang; orang yang memberi layanan kepada pengemudi kendaraan yang bukan angkutan umum untuk memenuhi ketentuan jumlah penumpang (tiga orang) ketika melewati kawasan tertentu.


Joki sebagai penunggang kuda telah dikenal sejak abad ke-19. Sebab, menurut wartawan dan sejarawan Alwi Shahab dalam Batavia Kota Banjir, pacuan kuda mulai dikenal di Hindia Belanda sejak masa pendudukan Inggris (1811–1816). Arena pacuan kuda salah satunya berada di Batavia, tepatnya di Lapangan Gambir (kini Monas).

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
transparant.png
bottom of page