- 29 Jul 2024
- 2 menit membaca
Diperbarui: 15 Mei
GELANGGANG Pacuan Kuda Pulo Mas bukan satu-satunya tempatberjudi di Jakarta pada 1970-an. Tempat lain yang tak kalah populer adalah arena pacuan anjing di Senayan. Kendati menjadi tempat favorit para penjudi, tak sedikit pula pengunjung yang datang sekadar mencari hiburan.
Dalam Ensiklopedi Jakarta: Culture & Heritage Volume 2 terbitan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Pemerintah Provinsi DKI Jakarta disebutkan, pacuan anjing juga dikenal dengan nama toto greyhound. Nama itu mengacu pada jenis anjing yang dipertandingkan dalam balapan adu cepat lari. Terdapat enam ekor anjing yang ditandingkan dalam setiap satu putaran. Para penonton yang tertarik bertaruh dapat memilih berdasarkan nomor punggung si anjing.
Arena balap anjing ini dibuka pada 1973 di masa Gubernur Ali Sadikin. Sebagaimana disebut dalam Gemerlapnya Meja Judi Menjelang Pelarangan Tahun 1981 terbitan Pusat Data dan Analisa Tempo, di masa awal kemunculannya, toto greyhound –yang menyertakan enam ekor anjing untuk mengejar bola-bola bernomor– dikelola oleh PT Citadel. “Dari toto greyhound ini kas DKI menerima Rp3 milyar setahun,” tulis Tempo.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















