top of page

Kala Sang Raja Ditolak Cintanya

Membuat karya sastra hingga memberikan gelar khusus dilakukan seorang raja Surakarta untuk perempuan dambaannya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi patah hati. (shutterstock.com).

9 Nov 2022
2 menit membaca

Diperbarui: 10 Sep

FENOMENA ghosting sedang ramai di kalangan anak muda. Ghosting adalah sebuah sikap berupa meninggalkan salah satu pihak saat pendekatan menuju relasi romansa tanpa kabar apapun. Alasannya beragam, mulai dari merasa tidak cocok hingga menemukan orang baru untuk diajak kencan. Jika hal ini menyerang laki-laki, maka dia akan dikatakan sadboys.


Seorang raja Jawa juga pernah menjadi sadboys. Kisahnya bermula dari Pakubuwono IX, raja Surakarta tahun 1861-1893, ketika menginjak masa puber dan masih namanya masih Raden Mas Suryo Duksina –gelar Pakubuwono IX belum tersemat. Di  usia 13 tahun, ia jatuh hati pada seorang gadis bernama Sekar Kadhaton.


Sekar Kadhaton adalah putri dari Pakubuwono VII (1830-1858). Di lingkungan keraton Surakarta, ia dikenal sebagai kembang istana karena kecantikan dan kecerdasannya. RM Suryo amat tergila-gila pada Sekar Kadhaton. Akan tetapi, cintanya ditolak meski bukan dengan cara ghosting.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page