top of page

Kekecewaan Istri Jenderal Moersjid

Kecewa karena suaminya dipenjara rezim Orde Baru, Siti Rachma Moersjid memusnahkan semua tanda jasa dan atribut militer milik sang suami.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Mayor Jenderal TNI Moersjid bersama istri, Siti Rachma, saat menjabat Duta Besar RI untuk Filipina. (Dok. Keluarga Moersjid/Historia.ID).

  • 26 Jun 2019
  • 3 menit membaca

JAKARTA, akhir 1969. Siddharta Moersjid baru saja pulang sekolah. Setiba di rumah, ayahnya Mayor Jenderal Moersjid bergegas keluar, menenteng koper dan mengenakan pakaian harian tentara. Sementara sang ibu, Siti Rachma, menangis melepas kepergian Moersjid.


“Sida, Papa pergi dulu, jagain mama di rumah,” kata Moersjid menitip pesan kepada Siddharta. Entah apa yang terjadi saat itu, Siddharta yang masih bocah tanggung belum tahu.

Setengah abad berselang, Siddharta menuturkan apa yang terjadi hari itu.


“Dia (Moersjid) pergi ke Rumah Tahanan Militer (RTM) Budi Utomo sendirian,” kenang Sida kepada Historia. Itu adalah hari di mana Moersjid menjadi tahanan dalam penjara rezim Orde Baru.


Dari Manila ke Nirbaya

Moersjid adalah bagian dari lingkaran Letnan Jenderal Ahmad Yani yang tersisa pasca-Oktober 1965. Ketika itu, Moersjid menjadi salah satu pembantu utama Yani yang menjabat Deputi I membidangi operasi. Di kalangan sejawatnya, Moersjid dikenal sebagai tentara tulen dengan pribadi yang tegas. 


Wartawan kawakan Julius Pour mencatat Moersjid terkenal sebagai perwira pemberani. Reputasinya sebagai tentara lapangan telah dirintis sedari perang kemerdekaan, penumpasan Darul Islam, serta memimpin operasi menghancurkan Permesta di Sulawesi Utara. Dia pernah mendapatkan pendidikan infantri dari Infantry Advance Course Amerika Serikat.


“Bahkan, anak buahnya memberinya sebutan jagoan tempur,” tulis Julius Pour dalam Konspirasi Dibalik Tenggelamnya Matjan Tutul.


Di masa peralihan menuju era Orde Baru ada niatan untuk mengadili Presiden Sukarno yang kekuasaannya sudah di ujung tanduk. Menurut Sida, Moersjid tidak bersedia memberi kesaksian yang semata-mata bertujuan menyudutkan Sukarno. Sekembali dari Manila usai berdinas sebagai duta besar Indonesia untuk Filipina, Moersjid diinterogasi. Kesalahannya pun dicari-cari.


Tim pemeriksa pusat mulai melontarkan dalil-dalil untuk menjerat Moersjid. Mulai dari tuduhan soal rumah milik Sukarno yang ditempati Moersjid di Manila hingga amarah Moersjid yang ingin menggebuk Marshall Green, duta besar AS yang dianggap menghina Sukarno. Namun tiada celah yang dapat menjebak Moersjid secara hukum pidana. Semua sangkaan itu tidak dapat dibuktikan.   


Tanpa melalui proses pengadilan, rezim Soeharto menahan Moersjid selama empat tahun. Tempat “pengamanan”  Moersjid berpindah dari RTM Budi Utomo ke RTM Nirbaya. Dakwaan yang ditimpakan kepada Moersjid berkutat pada anggapan bahwa dirinya merupakan perwira yang pro Sukarno. Kendati demikian, menurut sejarawan Asvi Warman Adam, Moersjid tergolong jenderal apolitis, tidak tergabung pada kelompok manapun.


“Bukan orangnya Nasution, Yani, apalagi Soeharto; juga tak terlalu dekat dengan Sukarno,” kata Asvi.

Moersjid ketika kembali ke rumah setelah hampir empat tahun dalam tahanan rezim Orde Baru, berkumpul bersama keluarga. (Dok. Keluarga Moersjid/Historia.ID).
Moersjid ketika kembali ke rumah setelah hampir empat tahun dalam tahanan rezim Orde Baru, berkumpul bersama keluarga. Kiri-kanan: Siddharta (anak ke-4), Dina Indira (anak ke-5), Siti Rachma (istri), Moersjid, Abdul Rasjid (anak ke-2), Mamiek (istri Rasjid, menggendong anak pertama mereka). Depan: Trisnamurti (anak ke-6). (Dok. Keluarga Moersjid/Historia.ID).

Luka Hati Istri 

Moersjid tampaknya lebih tegar menghadapi hari-harinya di penjara. Selama mendekam di balik jeruji besi, tiada yang berani mengganggu Si Jago Tempur itu. Tapi tidak demikian dengan istrinya, Siti Rachma. Perlakuan tidak adil terhadap Moersjid meninggalkan kesedihan yang mendalam baginya.


“Ibu saya membakar semua atribut Angkatan Darat ayah saya. Habis (tanpa tersisa). Sakit hati dia,” tutur Sida. “Jadi setelah berjuang yang ada malah dipenjarakan. Ibu marah karena dia tahu ayah enggak pernah nyolong, enggak pernah memberontak tapi dipenjara.”


Siti Rachma menghadapi kondisi yang berat. Untuk menghidupi keluarga dengan enam orang anak, dia harus berjuang menggantikan peran Moersjid sementara waktu. Meski terpukul dan sedih, Siti Rachma memiliki ketahanan yang tinggi. Pada 1970, Siti memulai usaha berjualan roti di rumahnya di Jalan Sutan Syahrir.


“Akhirnya Ibu banting tulang jualan roti, buka pukul 6 pagi tutup pukul 11 malam. Saya pulang sekolah ambil roti keliling Jakarta,” ujar Sida. “Makanya kami sekeluarga dapat hidup dengan baik.”


Usaha itu berhasil dilakoni hingga 1976.  Ketika Moersjid menghirup udara bebas pada 1973, seluruh keluarga bersukacita, terutama sang istri Siti Rachma. Kebersamaan pasangan ini berlangsung hingga dua dekade kemudian. Siti Rachma lebih dahulu menghadap Sang Khalik. Itu terjadi pada 16 Februari 1992.


“Walaupun ia menderita diabetes, ia jalankan peran ibu dengan sangat baik (dan keras), makanya beliau wafat dalam usia relatif muda (63),” kenang Sida.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Identified with the god Vishnu and revered as the standard-bearer of all kings, the genealogy and depictions of Purnawarman can be traced in various Tarumanagara inscriptions.
bg-gray.jpg
Pernah populer sebagai pohon peneduh bersama asam jawa dan flamboyan. Kini, tanaman ini menjadi salah satu pohon yang paling populer untuk aktivitas penghijauan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah berduka secara beruntun. Kehilangan orang dekat dalam waktu singkat.
bg-gray.jpg
Penyebaran pamflet provokatif oleh Front Pemuda Sunda bikin geger. Parlemen sampai memanggil perdana menteri. Ketidakadilan jadi pangkalnya.
Film fiksi sains dan fantasi lahir karena ketakutan pada komunisme, nuklir, dan dunia yang terkomputerisasi.
Film fiksi sains dan fantasi lahir karena ketakutan pada komunisme, nuklir, dan dunia yang terkomputerisasi.
Layar bioskop dihujani lesatan panah dan tombak, desingan pedang dan peluru, serta ledakan bom. Menegangkan.
Layar bioskop dihujani lesatan panah dan tombak, desingan pedang dan peluru, serta ledakan bom. Menegangkan.
Apa yang bisa didapatkan dari perang? Mungkin kuasa, bisa juga kebanggaan. Yang pasti, derita  korban.
Apa yang bisa didapatkan dari perang? Mungkin kuasa, bisa juga kebanggaan. Yang pasti, derita  korban.
Kapan dan Bagaimana asal-usul julukan Tim Garuda? Begini kisahnya.
Kapan dan Bagaimana asal-usul julukan Tim Garuda? Begini kisahnya.
Pandemi COVID-19 berimbas pada Olimpiade Tokyo. Seolah mengulang cerita kelam 80 tahun silam meski penyebabnya berbeda.
Pandemi COVID-19 berimbas pada Olimpiade Tokyo. Seolah mengulang cerita kelam 80 tahun silam meski penyebabnya berbeda.
Upaya menciptakan kondisi kerja yang adil gender masih diperjuangkan sampai sekarang.
Upaya menciptakan kondisi kerja yang adil gender masih diperjuangkan sampai sekarang.
transparant.png
bottom of page