top of page

Kekecewaan Istri Jenderal Moersjid

Kecewa karena suaminya dipenjara rezim Orde Baru, Siti Rachma Moersjid memusnahkan semua tanda jasa dan atribut militer milik sang suami.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Mayor Jenderal TNI Moersjid bersama istri, Siti Rachma, saat menjabat Duta Besar RI untuk Filipina. (Dok. Keluarga Moersjid/Historia.ID).

26 Jun 2019
3 menit membaca

Diperbarui: 13 Agu

JAKARTA, akhir 1969. Siddharta Moersjid baru saja pulang sekolah. Setiba di rumah, ayahnya Mayor Jenderal Moersjid bergegas keluar, menenteng koper dan mengenakan pakaian harian tentara. Sementara sang ibu, Siti Rachma, menangis melepas kepergian Moersjid.


“Sida, Papa pergi dulu, jagain mama di rumah,” kata Moersjid menitip pesan kepada Siddharta. Entah apa yang terjadi saat itu, Siddharta yang masih bocah tanggung belum tahu.


Setengah abad berselang, Siddharta menuturkan apa yang terjadi hari itu. “Dia (Moersjid) pergi ke Rumah Tahanan Militer (RTM) Budi Utomo sendirian,” kenang Sida kepada Historia. Itu adalah hari di mana Moersjid menjadi tahanan dalam penjara rezim Orde Baru.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page