- 5 Okt 2020
- 3 menit membaca
Diperbarui: 3 Mei 2025
PADA 1 Oktober 1965 keributan terjadi di tubuh TNI Angkatan Darat. Pucuk pimpinan Menteri/Panglima AD (Menpangad) Letjen TNI Ahmad Yani dikabarkan hilang, tak diketahui rimbanya. Pada saat bersamaan, melalui siaran RRI pagi, masyarakat mendengar adanya kudeta Dewan Jenderal dari kelompok yang menamakan diri sebagai Dewan Revolusi. Bak petir di siang bolong, berita itu membuat orang-orang kelimpungan.
Kabar tentang pengamanan perwira tinggi oleh Dewan Revolusi membuat Mayor Jenderal Moersjid kaget bukan main. Sebagai Deputi I Menpangad di dalam urusan operasi, yang secara struktural merupakan orang kedua setelah Yani di jajaran TNI AD, Moersjid seyogyanya ikut diamankan bersama perwira tinggi lainnya. Tetapi sebuah peristiwa berhasil menyelamatkan nyawanya. Dia pun lolos dari daftar korban tewas malam itu.
Dituturkan putra ketiga Moersjid, Siddharta Moersjid, dalam diskusi daring “Ada Apa dengan 1 Oktober 1965: Kisah Mengenai Dedikasi, Integrasi, dan Pengorbanan Demi Membangun Harapan untuk Indonesia”, diselenggarakan FTHR, Sabtu (30/10/2020), pada malam 1 Oktober sekira pukul 02.00 dini hari, sekelompok tentara berhenti di kompleks perumahan tempat kediaman Moersjid dan keluarganya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















