top of page

Kisah Cinta di Tepi Sungai Cisadane

Seorang tahanan politik Orde Baru jatuh cinta pada gadis desa. Menjalin kisah di tepi Sungai Cisadane.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Tuba bin Abdul Rochim. (Andri Setiawan/Historia.ID).

26 Des 2019
3 menit membaca

Diperbarui: 14 Apr

PADA 16 November 1965, Tuba bin Abdul Rochim, seorang pemuda dari Brebes, ditangkap karena menjadi anggota Pemuda Rakyat. Laki-laki yang lahir pada 14 April 1944 ini kemudian ditahan di Rumah Tahanan Chusus (RTC) Salemba. Satu bulan kemudian, ia dipindahkan ke RTC Tangerang.


Pada awal Februari 1966, proyek kerja paksa di RTC Tangerang dimulai. Para tahanan politik harus bekerja menggarap lahan untuk ditanami padi. Tuba termasuk di antara para pekerja paksa itu.


Setelah tiga bulan menggarap lahan, Tuba dipindahkan ke bagian dapur untuk mempersiapkan ransum tapol, jatah makan peleton pengawal, dan petugas sipir penjara. Selain itu, Tuba dan 24 orang lainnya ditugasi untuk mencari kayu bakar ke daerah Serpong, Lengkong, Karawaci, dan sekitarnya.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page