top of page

Tuba Bukan Tuba

Demi aksi bela negara, ia berada di Lubang Buaya dan menyaksikan kejadian mengerikan yang dialami para jenderal.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi Tuba. (M.A. Yusuf/Historia.ID).

21 Des 2022
12 menit membaca

Diperbarui: 14 Apr

TIGA jemari kuku tangannya menghitam; kedua jempol dan jari manis sebelah kiri. Sementara jari tengah kiri melengkung ke atas. Kadangkala jempolnya mengeluarkan bau busuk. Semuanya akibat getokan palu tentara yang memeriksanya berpuluh tahun silam. “Baunya enggak karu-karuan. Sudah 47 tahun masih bau aja,” katanya. Ia menduga jari yang menghitam itu lantaran darah beku yang tidak keluar.  


Bekas luka itu membawa ingatan Pak Tuba kembali pada peristiwa 1965. Ia diciduk lantaran tercatat sebagai anggota Pemuda Rakyat yang berada di Lubang Buaya saat terjadi Gerakan 30 September (G30S). 


Sebagai tahanan politik (tapol), siksaan demi siksaan menderanya. Ia mendekam dari penjara ke penjara hingga dibuang ke Pulau Buru. Setelah bebas, ia tak lepas begitu saja dari rundungan sebagai mantan tahanan politik (tapol). 

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page