Diperbarui: 11 Agu
KENDATI sudah lewat tujuh dasawarsa, revolusi kemerdekaan Indonesia (1945-1949) masih menyisakan banyak cerita yang tercecer di balik narasi besar konflik antara republik yang baru berdiri dan Belanda yang ingin menancapkan lagi kuku-kuku kolonialismenya. Benar apa yang dikatakan pujangga Sutan Takdir, bahwa periode empat tahun revolusi itu tak hanya hadir dalam bentuk kekerasan, pertumpahan darah, atau pembumihangusan kota/desa, melainkan juga merupakan revolusi jiwa pemuda Indonesia itu sendiri dalam banyak aspek.
Oleh karenanya, sejak 2018, Amir Sidharta dan Bonnie Triyana dari Indonesia berkolaborasi dengan Marion Anker dan Harm Stevens dari Belanda menyusun rencana Pameran “Revolusi Kemerdekaan Indonesia”. Selain tim kurator, Aminuddin Th Siregar, dosen FSRD ITB yang kini tengah menempuh studi doktoral di Universiteit Leiden dan sejarawan Remco Raben turut bergabung sebagai penasihat. Rencananya, pemeran akan dihelat di Rijksmuseum, Amsterdam, Belanda pada 11 Februari-6 Juni 2022 dan di Jakarta pada 2023 walau waktunya masih tentatif.
Menjawab pertanyaan wartawan mengenai kaitan penyelenggaraan pameran dengan proyek riset dekolonisasi yang didukung dana pemerintah Belanda, kurator Harm Stevens mengatakan pameran ini tidak ada hubungan dengan proyek tersebut dan merupakan inisiatif Rijksmuseum sendiri.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












