top of page

Konflik Sukarno dengan Adam Malik

Menjelang penyelesaian konfrontasi Malaysia, Presiden Sukarno bersitegang dengan Menteri Luar Negeri Adam Malik. Jadi pemberitaan media Malaysia.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 21 Jul 2022
  • 3 menit membaca

Di tengah kisruh konfontasi Indonesia-Malaysia, Menteri Luar Negeri Adam Malik bikin kejutan. Ia secara rahasia menjalin kontak dengan Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri merangkap Kepala Intelijen Malaysia Ghazali Shafie. Mereka membicarakan penyelesaian konflik Konfrontasi di Bangkok, Thailand, pada 30 April 1966.


Sekembalinya ke Jakarta, Adam Malik pun kena damprat Presiden Sukarno. Kemarahan Sukarno itu jadi santapan media Malaysia. Sukarno dikabarkan menuding Adam Malik sebagai “bachul” (pengecut) soal konfrontasi dengan Malaysia. Suratkabar Malaysia Berita Harian edisi 6 Mei 1966 menuliskan berita utama, “Sukarno dan Malik Bergadoh.”


“Kita mahu melancarkan peperangan ke atas Malaysia. Tetapi saudara (Adam Malik) mahu menamatkannya,” kata Sukarno seperti dikutip Berita Harian.



Adam Malik tak bergeming. “Kalau Bung Karno berpendapat demikian, bolehlah pecat saya,” ujar Adam Malik dalam suratkabat yang sama. Sukarno rupanya kecut juga mendengar jawaban menteri luar negerinya itu.


Bung Kancil dan Bung Besar


Perseteruan Adam Malik dan Bung Karno bukan kali itu saja. Hubungan keduanya merenggang memasuki paruh kedua tahun 1960. Pada 1964, Adam Malik bersama beberapa tokoh pers lain membentuk Badan Pendukung Sukarnoisme (BPS). Kegiatan BPS bertujuan memobilisasi opini publik melawan pengaruh PKI lewat pemberitaan media massa. Saat itu, Adam Malik menjabat sebagai menteri perdagangan.


Namun, BPS bagi Sukarno dimaknai sebagai pembunuh Sukarno dan ajarannya, “Sukarnoism to kill Sukarnoism and Sukarno.” Bung Karno, seperti disebut Alwi Shahab dalam Maria van Engels Menantu Habib Kwitang, menuduh BPS sebagai agen intelijien Amerika (CIA). BPS pun dibubarkan pada tahun itu juga. Pembubaran BPS diikuti dengan pembubaran Partai Murba, partai yang dipimpin Adam Malik, pada September 1965.


Ketika gegeran G30S meletus, Adam Malik condong mendukung Angkatan Darat yang dipimpin Letjen Soeharto. Dukungan Adam Malik dibuktikan dengan keterlibatannya dalam membiayai gerakan aksi penumpasan PKI.  



Menurut sejarawan John Roosa dalam Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto, Kedutaan Besar Amerika mentransfer sejumlah uang untuk front sipil ciptaan Angkatan Darat yang disebut Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan 30 September (KAP-Gestapu). Pada Desember 1965, Duta Besar Amerika Marshall Green memerintahkan pemberian dana sebesar 50 juta rupiah kepada wakil KAP Gestapu. Dana itu berasal dari CIA dan disalurkan lewat perantaraan Adam Malik dalam operasi rahasia bersandi “tas hitam”.


“Kesediaan kita untuk membantu dia dengan cara ini, menurut saya, akan membuat Malik berpikir bahwa kita setuju dengan peran yang dimainkannya dalam semua kegiatan anti PKI, dan akan memajukan hubungan kerja sama yang baik antara dia dan Angkatan Darat,” kata Green dikutip jurnalis Tim Weiner dalam Membongkar Kegagalan CIA.


Mengakhiri Konfrontasi


Manuver Adam Malik yang berseberangan dengan Sukarno berlanjut dalam upaya mengakhiri konfrontasi dengan Malaysia. Adam Malik menjadi tokoh kunci dalam lobi-lobi rahasia yang dirintis Letkol Ali Moertopo dan Mayor Benny Moerdani dalam operasi khusus. Ali Moertopo lebih dulu menjalin kontak dengan Ghazali Shafie sepekan sebelum pertemuan dengan Adam Malik.  


Seperti disebut sejarawan Linda Sunarti, Adam Malik adalah paman dari istri Ghazali yang juga punya kekerabatan dengan Jenderal Abdul Haris Nasution. Kontak-kontak pertama antara Ghazali dan Adam Malik di Bangkok juga terjalin melalui Taher, juga seorang dari keluarga Adam Malik.



“Bisa dikatakan adanya hubungan kekerabatan antara tokoh-tokoh yang terlibat mempermudah usaha-usaha penjajagan rujuk tersebut,” kata Linda dalam disertasinya di Universitas Indonesia “Penyelesaian Konflik Damai Indonesia Malaysia 1963--1966”. 

Dalam pembicaraannya dengan Ghazali, Adam Malik secara pribadi ingin Presiden Sukarno segera dilengserkan. Ia dianggap sebagai sumber perpecahan. Terkait masalah konfrontasi, Adam Malik menegaskan, secara pribadi ia tidak setuju dengan kebijakan tersebut. Setelah pertemuan perdana itu, Adam Malik dan Ghazali terus mengadakan kontak secara pribadi.


Pada 11 Agustus 1966, lahirlah pakta perdamaian yang secara resmi menormalisasi kembali hubungan Indonesia dan Malaysia. Adam Malik bertindak sebagai pimpinan delegasi Indonesia sedangkan Menteri Luar Negeri Malaysia Tun Abdul Razak mewakili Malaysia. Keduanya menandatangani pakta perdamaian yang dikenal dengan Jakarta Accord.



Sementara itu, posisi Sukarno sebagai presiden kian melemah. Tampuk kekuasaan negara secara tidak resmi telah dipegang Jenderal Soeharto. Adam Malik sendiri menjabat menteri luar negeri hingga 1978. Setelahnya, Adam Malik menjabat wakil presiden mendampingi Presiden Soeharto hingga 1983.


Adam Malik dalam memoarnya Mengabdi Republik Jilid II: Angkatan 45 mengakui amat sukar untuk memahami pikiran Bung Karno. Adakalanya dia bilang A tapi yang dia maksud B. Ia menyerukan “Ganyang Malaysia” tetapi yang ingin diganyangnya sebenarnya kekuatan lain. Contohnya: Sukarno memerintahkan nasionalisasi kepentingan dan modal asing. Tapi nyatanya Caltex, Stanvac, dan Shell dibiarkannya beroperasi dan berkembang terus.  


“Berliku-liku laksana aliran sungai yang berliku-liku menuju muara, memang sukar,” katanya.  

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
transparant.png
bottom of page