top of page

Konflik Sukarno dengan Adam Malik

Menjelang penyelesaian konfrontasi Malaysia, Sukarno bersitegang dengan Adam Malik. Jadi pemberitaan media Malaysia.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Jenderal Soeharto, Presiden Sukarno, Wakil Perdana Menteri II Johannes Leimena, Menteri Luar Negeri Adam Malik. Sumber: Mengabdi Republik Jilid 2.

21 Jul 2022
3 menit membaca

Diperbarui: 24 Jul

DI tengah kisruh konfontasi Indonesia-Malaysia, Menteri Luar Negeri Adam Malik bikin kejutan. Ia secara rahasia menjalin kontak dengan Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri merangkap Kepala Intelijen Malaysia Ghazali Shafie. Mereka membicarakan penyelesaian konflik Konfrontasi di Bangkok, Thailand, pada 30 April 1966.


Sekembalinya ke Jakarta, Adam Malik pun kena damprat Presiden Sukarno. Kemarahan Sukarno itu jadi santapan media Malaysia. Sukarno dikabarkan menuding Adam Malik sebagai “bachul” (pengecut) soal konfrontasi dengan Malaysia. Suratkabar Malaysia Berita Harian edisi 6 Mei 1966 menuliskan berita utama, “Sukarno dan Malik Bergadoh.”


“Kita mahu melancarkan peperangan ke atas Malaysia. Tetapi saudara (Adam Malik) mahu menamatkannya,” kata Sukarno seperti dikutip Berita Harian.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page