- 25 Jul 2022
- 3 menit membaca
Diperbarui: 25 Jul
SETELAH memimpin penumpasan PKI pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965, nama Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, komandan RPKAD (kini, Kopassus), melambung tinggi. Reputasi itu membuat Presiden Soeharto waspada. Karier militer Sarwo pun berakhir dengan cepat.
Setelah menjabat komandan RPKAD, Sarwo memimpin Kodam II/Bukit Barisan di Medan, Sumatra Utara. Tiba-tiba karier militernya akan dimatikan dengan mengirimnya ke luar negeri sebagai duta besar.
“Papi amat terpukul dengan keputusan pemerintah menempatkan dirinya di Rusia, selagi karier militernya sedang begitu cemerlang,” kata Kristiani Herrawati atau Ani Yudhoyono, putri Sarwo Edhie Wibowo, dalam Kepak Sayap Putri Prajurit.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















