Diperbarui: 9 Sep
SEJARAH 1965 adalah sejarah yang masih bermasalah. Akibatnya kebanyakan orang hanya mengingat, bahkan hanya membesar-besarkan kematian para jenderal Angkatan Darat (AD) tanpa menghiraukan kematian atau penderitaan jutaan orang yang dikambinghitamkan tanpa pengadilan pasca-kematian para jenderal tersebut.
Mereka yang dikambinghitamkan dituduh bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI), padahal mereka bukan anggotanya dan tak paham apa itu marxisme. Mereka dituduh G30S/PKI walau bukan anggota PKI dan tidak pernah terlibat dalam kematian para jenderal tersebut. Sepanjang masa kekuasaan Orde Baru, narasi tentang PKI sebagai pelaku G30S dan anti-Tuhan terus didengungkan. Fakta banyak anggota PKI yang shalat ataupun ke gereja dikubur dalam-dalam.
Para pelaku penculikan yang kemudian berujung pada kematian para jenderal tersebut, mayoritas berasal dari Angkatan Darat. Perwira yang menjadi komandan G30S bahkan sama-sama pernah bertugas di Jawa Tengah seperti Letnan Jenderal Ahmad Yani dan ironisnya, di batalyon yang didirikan Yani yang menjadi korban gerakan tersebut. Narasi Orde Baru kerap menyebut para perwira yang menculik itu adalah bagian dari PKI yang disusupkan ke AD.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












