- 7 Feb 2023
- 4 menit membaca
Diperbarui: 18 Mei
TIDAK hanya benda-benda budaya, Belanda pun banyak merampas arsip bersejarah dari Indonesia semasa revolusi kemerdekaan 1945-1949. Beberapa di antaranya arsip pergerakan orang-orang kiri yang dirampas NEFIS atau badan intelijen militer Belanda dan kini masih tersimpan, baik di Nationaal Archief (Arsip Nasional Belanda) di Den Haag dan IISG/IISH atau Institut Sejarah Sosial Internasional di Amsterdam, Belanda.
Arsip-arsip itu, menurut peneliti arsip Universiteit van Amsterdam Rika Theo, tak kalah penting untuk diungkap karena orang-orang di baliknya juga punya pengaruh terhadap revolusi kemerdekaan. Tak kalah penting jika arsip itu juga bisa terbuka untuk bisa diakses setiap peneliti sejarah, baik Belanda maupun Indonesia.
“Beberapa tahun lalu sempat ada perdebatan di Belanda tentang repatriasi arsip-arsip NEFIS, di mana beberapa di antaranya dipamerkan di pameran ‘Revolusi!’ di Rijksmuseum. Tetapi saya kira dalam perdebatan itu tak pernah disebutkan banyak tentang isi arsip yang berkaitan dengan pergerakan kiri karena sangat rumit dan di sisi lain penting dalam situasi terkini di Indonesia,” kata Rika dalam seminar hybrid bertajul “Reactivating Archives of the Indonesian Left in the Netherlands” di IISH, Amsterdam, 3 Februari 2023.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















