top of page

Menengok Arsip-arsip Pergerakan Kiri Indonesia di Belanda

Sejumlah arsip NEFIS dan dokumen pribadi tentang pergerakan kiri masih tersebar di Belanda. Bukan perkara mudah juga untuk mengaksesnya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Penangkapan Amir Sjarifuddin pasca-Madiun Affair 1948 (Repro: 30 Tahun Indonesia Merdeka Jilid 1)

7 Feb 2023
4 menit membaca

Diperbarui: 18 Mei

TIDAK hanya benda-benda budaya, Belanda pun banyak merampas arsip bersejarah dari Indonesia semasa revolusi kemerdekaan 1945-1949. Beberapa di antaranya arsip pergerakan orang-orang kiri yang dirampas NEFIS atau badan intelijen militer Belanda dan kini masih tersimpan, baik di Nationaal Archief (Arsip Nasional Belanda) di Den Haag dan IISG/IISH atau Institut Sejarah Sosial Internasional di Amsterdam, Belanda.


Arsip-arsip itu, menurut peneliti arsip Universiteit van Amsterdam Rika Theo, tak kalah penting untuk diungkap karena orang-orang di baliknya juga punya pengaruh terhadap revolusi kemerdekaan. Tak kalah penting jika arsip itu juga bisa terbuka untuk bisa diakses setiap peneliti sejarah, baik Belanda maupun Indonesia.


“Beberapa tahun lalu sempat ada perdebatan di Belanda tentang repatriasi arsip-arsip NEFIS, di mana beberapa di antaranya dipamerkan di pameran ‘Revolusi!’ di Rijksmuseum. Tetapi saya kira dalam perdebatan itu tak pernah disebutkan banyak tentang isi arsip yang berkaitan dengan pergerakan kiri karena sangat rumit dan di sisi lain penting dalam situasi terkini di Indonesia,” kata Rika dalam seminar hybrid bertajul “Reactivating Archives of the Indonesian Left in the Netherlands” di IISH, Amsterdam, 3 Februari 2023.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page