- 29 Jun 2021
- 4 menit membaca
PESTA pernikahan Airlangga dan putri Dharmawangsa Tguh belum juga usai. Tiba-tiba huru-hara datang. Haji Wurawari menyeruduk membawa petaka di tengah kemeriahan pesta. Orang-orang berteriak. Keraton dibakar, runtuh habis tak bersisa.
Seluruh Jawa bagaikan tertimpa pralaya. Banyak pembesar yang tewas. Pertama-tama Sri Maharaja Dharmawangsa Tguh.
Ketika peristiwa itu terjadi Airlangga masih berumur 16 tahun. Dia lari ke hutan menyelamatkan diri dengan hanya ditemani oleh Narottama, pengikut setianya. Semenjak itu hari-harinya dihabiskan di hutan, berpakaian kulit kayu, makan apapun yang dimakan oleh para orang suci dan penghuni hutan. Teman bicaranya adalah para pertapa (rsi).
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















