top of page

Menggelorakan Kembali Perlawanan Dahsyat di Bekasi

Guna memperingati Hari Pahlawan, santri, pesilat, hingga pegiat sejarah mereka ulang dua pertempuran akbar di Bekasi dalam drama.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Reka Ulang Pertempuran Kranji dan Sasak Kapuk di Lapangan Pesantren Attaqwa.

18 Nov 2017
2 menit membaca

SAMBIL berjongkok dan memegang sebatang bambu, pemuda-pemuda berkemeja putih itu waspada. Mereka menunggu kedatangan lawan, pasukan Inggris, yang akan datang menyerang.


Suasana tegang pra-pertempuran itu terjadi menjelang Pertempuran Sasak Kapuk. Tapi, itu bukan Pertempuran Sasak Kapuk yang terjadi tahun 1945, melainkan Pertempuran Sasak Kapuk dalam drama reka ulang yang bertempat di Lapangan Pesantren Attaqwa, Ujungharapan, Babelan, Bekasi. Reka ulang pertempuran yang dihelat untuk memperingati Hari Pahlawan itu berlangsung pada Sabtu, 18 November 2017, siang.


Bukan semata untuk “menghidupkan” kembali Pertempuran Sasak Kapuk dan Serangan Kranji, Ikatan Abiturien Attaqwa (IKAA) dan Komunitas Sejarah Front Bekassi membuat drama itu untuk mengedukasi masyarakat. “Reka ulang ini demi mengingatkan masyarakat sekitar tentang besarnya peranan ulama, khususnya KH Noer Ali dalam Revolusi Fisik,” kata Nurkholis Wardi, sekjen IKAA yang juga keponakan mendiang KH Noer Ali, kepada Historia.


“Karena banyak masyarakat sekitar maupun di kota-kota lain tidak tahu tentang pertempuran ini. Kita giat menggelar ini agar masyarakat tahu bahwa ada pertempuran besar yang melibatkan KH Noer Ali di Pondok Ungu. Kegiatan ini juga sesuai amanat KH Amin Noer (putra ketiga almarhum KH Noer Ali –red.) agar tidak melupakan sejarah,” sambung Nurkholis.


Sekira 70 orang berpartisipasi dalam drama yang dibuat untuk melukiskan peran KH Noer Ali beserta murid-muridnya semirip mungkin itu. Mereka berasal dari beragam komunitas yang ada di Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Selain membawa atribut seperti seragam, mereka juga melengkapi drama dengan replika senjata sendiri. Tak lupa, dua jip Willys dan kendaraan taktis Ford Lynx, yang didatangkan dari Museum Mandala Wangsit Siliwangi, juga disertakan untuk menduplikasi konvoi pasukan Inggris.


Teriakan takbir menjadi penanda serangan dadakan pertama Kelompok Pesilat Subang yang diperankan enam murid-murid Padepokan Silat Sima Maung, diselingi dentuman-dentuman mercon. Adegan itu dibuat untuk memperlihatkan peristiwa sergapan heroik Kelompok Pesilat Subang pimpinan Ama Puradiredja di Rawa Pasung, Kranji.


Lepas dari serangan pertama, konvoi Inggris kembali kena serangan kejutan. Kali ini serangan datang dari pasukan TKR Laut, TKR Batalyon V Bekasi, dan Hizbullah di bawah pimpinan KH Noer Ali, yang dalam drama ini diperankan cucunya yang bernama Nur Ali. Suara beragam jenis mercon lebih menggelegar dari sebelumnya. Adegan untuk menunjukkan Pertempuran Sasak Kapuk itu dimainkan 50 siswa Madrasah Aliyah Attaqwa Pusat.


Kepedihan KH Noer Ali, yang melihat banyak muridnya menjadi korban, menjadi adegan penutup drama reka ulang itu. “Ini jadi pertempuran frontal pertama dan terakhir yang diterapkan KH Noer Ali di masa revolusi fisik. Selebihnya, KH Noer Ali menjadikannya pelajaran dan memilih taktik perang gerilya,” tutur penggiat komunitas sejarah Front Bekassi, Beny Rusmawan kepada Historia.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Selama tiga dekade tinggal di Uni Soviet, Semaoen menggeluti berbagai profesi: penyiar radio, penerjemah, dosen, hingga wakil perdana menteri.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
Mampukah Jokowi dan Ahok menuntaskan masalah Jakarta yang diwariskan dari zaman ke zaman?
Mampukah Jokowi dan Ahok menuntaskan masalah Jakarta yang diwariskan dari zaman ke zaman?
Trofi Piala Eropa tak hanya bisa direbut dengan strategi dan skuad mumpuni, tapi juga keberuntungan. Italia pernah mengalaminya.
Trofi Piala Eropa tak hanya bisa direbut dengan strategi dan skuad mumpuni, tapi juga keberuntungan. Italia pernah mengalaminya.
Usai tak lagi merumput, 11 bintang sepakbola ini terjun ke dunia politik. Ada yang sukses, ada pula yang kurang moncer.
Usai tak lagi merumput, 11 bintang sepakbola ini terjun ke dunia politik. Ada yang sukses, ada pula yang kurang moncer.
Kerusuhan rasial Chicago 1919, kisah pilu orang kulit hitam di negeri tempat kelahiran demokrasi.
Kerusuhan rasial Chicago 1919, kisah pilu orang kulit hitam di negeri tempat kelahiran demokrasi.
Tenar karena karakter bermain dan gaya rambutnya mirip Maradona. Berhasil bangkit dari keterpurukan pasca-gantung sepatu.
Tenar karena karakter bermain dan gaya rambutnya mirip Maradona. Berhasil bangkit dari keterpurukan pasca-gantung sepatu.
Hari lahir WR Supratman 9 Maret ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional. Padahal tanggal itu masih diperdebatkan.
Hari lahir WR Supratman 9 Maret ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional. Padahal tanggal itu masih diperdebatkan.
transparant.png
bottom of page