top of page

Menggeruduk Rumah Penggede Orde Lama

Menjelang lengsernya Presiden Sukarno, sejumlah pejabat dan pengusaha masuk ke dalam daftar penangkapan. Kediaman mereka ikut jadi sasaran amuk massa, menyingkap sejumlah temuan mencengangkan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pengusaha Teuku Markam bercengkrama bersama Presiden Sukarno. Sementara Jusuf Muda Dalam tampak berdiri. (Sumber: Dok. Asmawi Lida)

  • 14 Okt 2022
  • 4 menit membaca

Selama berkuasa, Presiden Sukarno ditopang oleh sejumlah pengusaha swasta yang loyal. Mereka andil dalam membiayai aneka proyek mercusuar gagasan Bung Karno. Sebagai imbal baliknya, para pengusaha ini menikmati fasilitas dan kemudahan dalam menjalankan roda bisnis. Apakah itu dalam bentuk kredit lunak, proyek tender, hingga ekspor-impor komoditi.


Setelah terbit Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966, beberapa pejabat negara dianggap sebagai biang kerok penggarong uang negara. Atas perintah Jenderal Soeharto, para pengusaha yang dekat dengan Sukarno turut jadi target penangkapan. Mereka yang paling menonjol jadi sasaran bulan-bulanan masyarakat.


Itulah yang terjadi salah satunya kepada eks Menteri Urusan Bank Sentral merangkap Gubernur Bank Indonesia Jusuf Muda Dalam (JMD). Sebelum menjabat menteri, JMD merupakan presiden direktur Bank Nasional Indonesia (BNI). Lama berkecimpung di sektor ekonomi, JMD bergaul akrab dengan pengusaha ternama masa itu. Ia berperan dalam mencairkan kredit luar negeri berjangka setahun (DPC) kepada beberapa pengusaha rekanan.


Dalam Supersemar, JMD masuk daftar penangkapan kategori ketiga. Kategori ini merujuk pada pejabat yang hidup amoral dan asosial; hidup dalam kemewahan di atas penderitaan rakyat.



Harian Berita Yudha edisi Minggu, 27 Maret 1966 menyebut rumah milik JMD di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, jadi sasaran penggerebekan kesatuan aksi mahasiswa dan pelajar. Salah satu kompleks perumahan di atas tanah seluas 8000 meter persegi itu lebih mirip taman tempat raja-raja dulu bersenang-senang. Menurut koran yang berafiliasi dengan Angkatan Darat ini, salah satu rumah yang termewah oleh JMD ternyata dijadikan tempat bersuka ria bersama simpanan-simpanannya.


Dari jalan raya, rumah itu tampak seperti gedung biasa saja. Namun, ketika dimasuki, terdapat satu kompleks luas dengan tiga gedung yang dibatasi tembok tinggi. Di salah satu gedung itulah JMD biasa menghabiskan waktu dengan beberapa perempuan secara bergantian. Begitu masuk ke dalam,  seisi rumah terlihat mewah lengkap dengan perabotan serba modern. Kisah “taman firdaus” duniawi JMD akhirnya tersingkap setelah seluk-beluk rumah tersebut digeruduk massa.


“Di dalam gedung itu didapati berbagai macam foto wanita telanjang, di antaranya terdapat bintang-bintang film Indonesia. Di samping ini juga terdapat alat-alat pemotret serta alat-alat kecantikan dan obat-obat hormone,” sebut Berita Yudha.



Menurut keterangan pelayan rumah, seperti dikutip Berita Yudha, JMD dalam seminggu empat kali mengunjungi rumah peristirahatannya itu. Setiap tuannya itu datang selalu disertai wanita. Kadang-kadang si wanita datang lebih dulu. Datangnya pun tak tentu. Kadang-kadang pukul 12 siang, terus menginap. Kira-kira pukul 6 sore kemudian wanitanya pulang. Lanjut lagi pukul 7 malam, datang lagi wanita lain. Ia mengaku, rumah tersebut baru digunakan selama 8 bulan terakhir.


“Wanita yang sering berkunjung ke sini umumnya berumur sekitar 18 sampai 23 tahun. Karena demikian banyak dan berlainan yang datang kemari, maka saya sangat sulit untuk mengenalnya satu-satu di antara mereka itu. Tapi yang sudah saya kenal benar ialah 2 orang wanita pegawai Bank Negara,” ujar si pelayan.  


Berbeda dari penggerudukan rumah JMD, dalam proses penangkapan Teuku Markam terjadi perlawanan. Markam adalah Direktur PT Kulit Aceh Raya Kapten Markam (Karkam). Dialah raja karet dari Sumatra yang tajir melintir.  Selain itu, Markam merupakan salah satu pengusaha Istana yang menikmati fasilitas DPC. Markam dikenal dekat dengan Presiden Sukarno dan kawan dari JMD.



Markam ditangkap pada 23 Maret 1966. Tentara menjemput Markam di kediamannya di bilangan Kebayoran, Jakarta Selatan. Namun, penangkapan itu, menurut koran Malaysia Berita Harian, 1 April 1966, didahului baku-tembak antara anak buah Markam dan tentara yang hendak menciduknya.


“Tentara berjaya menangkap Tuan Markam dan pengikut-pengikutnya,” kata Berita Harian.

Markam kemudian dipenjarakan tanpa melalui proses pengadilan. Pada masa Orde Baru, semua harta Markam maupun aset PT Karkam disita oleh negara. Tapi, setelah bebas pada 1974, Markam bangkit lagi dengan merintis PT Marjaya yang bergerak di bidang kontraktor. 

 


Kisah mirip JMD juga melanda Potan Harahap. Ia merupakan tangan kanan JMD yang menjabat sebagai gubernur pengganti BNI Unit III. Menurut Ganis Harsono dalam Cakrawala Politik Era Sukarno, Potan salah satu pengusaha asal Sumatra yang termasuk jajaran tim penasihat ekonomi presiden. Dalam kedudukannya itu, Potan bertugas menghimpun dana revolusi dari sejumlah pengusaha.


Pada akhir Maret 1966, rumah Potan di Jl. Adityawarman No.21, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan diserbu serombongan massa. Sejumlah satpam penjaga rumah Potan tak berdaya menghadapi jibunan orang yang menggeruduk sejak pukul 5.30 pagi. Kebanyakan massa ini berasal dari kesatuan aksi mahasiswa. Pintu rumah Potan yang memakai kunci luar negeri, dikampak oleh mereka sampai ringsek.


Setiba mereka di depan pintu kamar, Potan tak kunjung keluar. Ketika pintu kamar dibobol, Potan ditemukan sembunyi di dalam lemari pakaian dalam keadaan meringkuk ketakutan.



“Dia berjongkok di atas tumpukan uang rupiah baru, menggigil pucat melihat para mahasiswa itu,” kata Berita Yudha, 24 April 1966.


Menurut Berita Yudha, sejumlah besar dokumen penting ditemukan dalam kamar rumah Potan Harahap. Pada tas koper merek Samsonite tersua surat-surat katebelece dari Menteri Kehakiman Astrawinata maupun JMD. Sementara itu, di meja kerja Potan didapati dokumen-dokumen yang menyangkut perkara moneter. Terselip pula setumpuk buku travellingcheque yang siap diuangkan senilai ratusan ribu dolar Amerika. Yang lebih menyilaukan mata, ditemukan satu sak besar berisi penuh dengan butiran-butiran permata, berlian, dan perhiasan berharga lainnya.   


Demikianlah sekelumit cerita penggerebekan kediaman Potan Harahap. Setelah itu, tak banyak lagi informasi yang tercatat mengenai tindak lanjut kasus hukum Potan Harahap. Namun yang jelas, mayoritas pejabat dan pengusaha loyalis Sukarno mengalami nasib nelangsa di zaman Orde Baru.     


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Anak muda putus sekolah dan menganggur menjadi problem di banyak daerah di Indonesia. Di Jombang, sebuah kota kecil di Jawa Timur, mereka diberikan keterampilan praktis dan praktik lapangan lalu dikirim ke Lampung dalam program Transmigrasi Pramuka.
bg-gray.jpg
The United States’ hydrogen bomb tests in the Eniwetok Atoll in the Pacific alarmed a member of the Indonesian House of Representatives, who urged the government to mobilize opposition on the international stage.
bg-gray.jpg
Jenderal Soedirman mendukung Persatuan Perjuangan yang digagas Tan Malaka. Namun, dia kemudian meninggalkan kawan sehaluan setelah terjadi peristiwa kudeta 3 Juli 1946.
bg-gray.jpg
Setelah Sutan Sjahrir dibebaskan, para pengikut Tan Malaka menyodorkan konsepsi untuk disetujui Sukarno. Hatta menyadari sedang terjadi kudeta.
A deep and balanced understanding about the events in 1959-1969 is required to achieve reconciliation.
A deep and balanced understanding about the events in 1959-1969 is required to achieve reconciliation.
Trofi Piala Eropa tak hanya bisa direbut dengan strategi dan skuad mumpuni, tapi juga keberuntungan. Italia pernah mengalaminya.
Trofi Piala Eropa tak hanya bisa direbut dengan strategi dan skuad mumpuni, tapi juga keberuntungan. Italia pernah mengalaminya.
Tak ingin Indonesia mendominasi, Negeri Jiran menempuh jalan curang. Terbongkar oleh salah satu wasitnya.
Tak ingin Indonesia mendominasi, Negeri Jiran menempuh jalan curang. Terbongkar oleh salah satu wasitnya.
Brompton bukan sepeda lipat pertama di dunia. Tapi mengapa ia begitu terkenal?
Brompton bukan sepeda lipat pertama di dunia. Tapi mengapa ia begitu terkenal?
Usai tak lagi merumput, 11 bintang sepakbola ini terjun ke dunia politik. Ada yang sukses, ada pula yang kurang moncer.
Usai tak lagi merumput, 11 bintang sepakbola ini terjun ke dunia politik. Ada yang sukses, ada pula yang kurang moncer.
Bak kanker kronis, rasisme tetap tumbuh di lapangan hijau. Mencoreng keindahan sepakbola.
Bak kanker kronis, rasisme tetap tumbuh di lapangan hijau. Mencoreng keindahan sepakbola.
transparant.png
bottom of page