top of page

Tajir Melintir Sultan Langkat

Kesultanan Langkat paling kaya di antara kesultanan Melayu di pantai timur Sumatra. Pundi-pundi kekayaannya bersumber dari konsesi pertambangan, perkebunan, dan hasil hutan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Sultan Abdul Aziz Jalil Rahmad Shah. Di masa kepemimpinannya, Kesultanan Langkat mencapai puncak kejayaan dan kemakmuran. (KITLV).

  • 1 hari yang lalu
  • 4 menit membaca

KETIKA Istana Kesultanan Langkat dijarah dalam peristiwa revolusi sosial, banyak harta benda kesultanan ludes digondol para begundal. Konon, sejumlah pentolan laskar yang menyerbu istana menggasak tiga kaleng sigaret cap “555” berisi penuh berlian sebesar kemiri. Setelah mendapatkan harta rampasan itu, mereka tak kembali ke pasukannya. Ada yang kabur ke Penang, Malaya, dan Jawa.


Kesultanan Langkat tersohor sebagai kesultanan Melayu terkaya di pantai timur Sumatra. Puncak kejayaannya berlangsung pada masa Sultan Abdul Aziz Jalil Rahmad Shah yang memerintah antara 1893–1927. Di bawah Sultan Abdul Azis, Kesultanan Langkat mencapai kemakmuran sekaligus pusat pendidikan agama Islam di Sumatra Utara.


Sejarawan Universitas Negeri Medan, Ichwan Azhari menyebut Sultan Abdul Aziz berperan dalam menguatkan hubungan politik Kesultanan Langkat, mendirikan perguruan Jam’iyah Mahmudiyah’, membangun Masjid Azizi, membuka sekolah umum, memberikan beasiswa keluar negeri untuk rakyat, memberikan fasilitas kesehatan gratis dan pembangunan rumah sakit.


“Kesultanan Langkat di masa kepemimpinan Sultan Abdul Aziz mencapai puncak kejayaan. Hal ini diraih berkat kecakapan beliau dalam melahirkan berbagai kebijakan yang sangat kontributif terhadap kemajuan Kesultanan Langkat,” catat Azhari dalam 100 Tokoh Melayu Nusantara.


Kesuksesan Sultan Abdul Aziz tak lepas dari fondasi yang diletakkan oleh ayahnya, Sultan Musa, raja pertama bergelar Sultan yang memerintah antara 1840–1893. Sultan Musa juga menjadi sultan pertama yang menjalin kontak dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda.


Di masa kepemimpinannya, Sultan Musa menghadapi pemberontakan puak-puak di Langkat dan ancaman Kesultanan Aceh. Situasi itu mendorong Sultan Musa untuk meminta pertolongan Belanda. Sebagai imbal baliknya, Kesultanan Langkat mengakui kekuasaan pemerintah kolonial.


Campur tangan Belanda memungkinkan Sultan Musa memperoleh konsesi dari tanah Langkat yang dijadikan perkebunan tembakau dan karet. Mohammad Said dalam Kuli Kontrak Tempo Dulu: Dengan Derita dan Kemarahannya menyebut Langkat termasuk salah satu incaran kaum planters, tuan-tuan kebun Belanda yang ingin memperluas wilayah perkebunannya. Usaha perkebunan di Langkat baru dimulai pada 1871, sedangkan di Deli dan Serdang lebih dulu satu dekade sebelumnya.


Pada 1875 terdapat tujuh perkebunan besar di Langkat. Sementara di Deli dan Serdang, jumlahnya jauh lebih banyak. Semakin tinggi keuntungan dari hasil perkebunan, semakin besar pula pendapatan yang masuk ke kas kesultanan.


“Para Sultan memberi konsesi-konsesi tanah untuk area perkebunan kepada pihak asing dengan ikatan-ikatan perjanjian ganti rugi. Di Langkat selain konsesi untuk perkebunan terdapat pertambangan,” catat Usman Pelly dan Ratna M.S. dalam Sejarah Pertumbuhan Pemerintahan Kesultanan Langkat, Deli, dan Serdang.


Bersamaan dengan ekspansi perkebunan, pada masa Sultan Musa, tanah Langkat diketahui mengandung minyak bumi. Penemuan sumur minyak secara tak sengaja di Telaga Said pada 1880-an, kemudian di Telaga Tunggal, menjadi sumber pendapatan tambahan bagi Kesultanan Langkat.


Di akhir masa kekuasaannya, Sultan Musa telah mengembangkan perekonomian Kesultanan Langkat dari tiga sumber utama: perkebunan, kayu hutan di Langkat Hulu, dan tambang minyak. Dari semuanya, royalti minyak mendatangkan keuntungan paling besar.


“Bahkan dengan royalti minyak saja cukup mengalahkan Kerajaan Deli yang pertama melakukan kerjasama dengan pihak kolonial,” tulis Muhammad Alfin dalam skripsi “Kehidupan Sosial-Ekonomi Bangsawan Langkat 1942–1947” di Universitas Negeri Medan.


Hingga pemerintahan dipimpin Sultan Abdul Aziz, Kesultanan Langkat telah mencapai modernisasi di segala bidang. Terlihat dari gaya hidup bangsawan Langkat yang mengikuti budaya Eropa, seperti memakai jas, kemeja, tali pelikat, dan sepatu pantofel. Begitu pula dengan makanan, seperti oat gandum pengganti sarapan, makanan kaleng, dan minum anggur. Memiliki sepeda motor dan mobil pun telah lazim di kalangan bangsawan.


“Hiburan bangsawan Langkat selain tari tradisional, sudah ada juga sirkus yang pertama kali ada di Jawa, dan akhirnya juga datang ke Langkat. Selain sirkus, para bangsawan juga pergi berlibur ke luar negeri atau luar kota. Para bangsawan menginap di hotel sebagai tempat peristirahatan. Kaum bangsawan juga biasa bersantai di taman menghabiskan waktu sore hari berkumpul bersama seluruh anggota keluarga,” tulis Khairun Nisa, dkk. dalam “Gaya Hidup Bangsawan Langkat (1900–1942)”, termuat di Puteri Hijau: Jurnal Pendidikan Sejarah, Januari 2023.


Dengan pundi-pundi kekayaannya, Sultan Abdul Aziz membangun istana baru, yakni Istana Darussalam dan membeli kapal tanker SS Sultan van Langkat. Stabilitas dan kemakmuran inilah yang diwariskan kepada anaknya, Sultan Mahmud, yang mulai berkuasa pada 1927 setelah ayahnya mangkat.


Pada masa Sultan Mahmud, pemborosan dan gaya hidup mewah kian mencolok di hadapan rakyat. Di beranda Istana Darussalam berjejer mobil-mobil mahal milik Sultan Mahmud. Pada 1933, Sultan Mahmud memiliki 13 mobil sedan limosin. Dia menjadi salah satu dari sedikit orang di Sumatra Timur yang mengendarai mobil Buick ketika menghadiri pertemuan.


Sejarawan Anthony Reid menyebut Sultan Mahmud sebagai sultan paling kaya dari semua kesultanan dan kerajaan di Sumatra Timur. Pada 1931, pendapatan pribadinya dari royalti minyak sebesar f472.094, jauh di atas Sultan Deli dan Serdang yang hanya sepertiganya.


Kekayaan yang luar biasa itu memungkinkan Sultan Mahmud memanjakan diri dan keluarganya dengan berbagai rupa plesiran. Mulai dari koleksi kuda pacu, menyelenggarakan pesta semarak untuk orang-orang Eropa berpengaruh, sampai perjalanan wisata ke Eropa dan sepasukan sanak saudara aristokrat yang hidupnya bergantung pada sultan.


“Sultan Mahmud dari Langkat yang penghasilannya jauh lebih besar, juga dililit utang sebanyak f1.318.000 pada akhir tahun 1934. Bagi Sultan Mahmud yang senantiasa curiga dan tidak yakin pada dirinya sendiri, utangnya ini semakin menimbulkan kecemasan,” catat Reid dalam The Blood of the People: Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra.


Berbeda dengan ayahnya, Sultan Abdul Aziz yang tegas dan dihormati, Sultan Mahmud agak berjarak dengan rakyatnya. Kesenjangan antara kehidupan kaum bangsawan di istana dengan rakyat menjadi bom waktu, yang akhirnya meledak dalam peristiwa revolusi sosial pada Maret 1946.


Istana Darussalam porak-poranda hingga tak berjejak akibat dilalap api. Tangan-tangan liar menjarah harta benda kesultanan. Beberapa keluarga bangsawan ditangkap, dianiaya, diperkosa, bahkan dibunuh. Tak lama setelah peristiwa nahas itu, Sultan Mahmud mangkat pada 1948. Kejayaan dan kekayaan Kesultanan Langkat yang tersohor tinggal catatan sejarah.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Maria Ullfah dituduh pro-Amerika gara-gara meloloskan flm Hollywood.
bg-gray.jpg
Presiden Sukarno menggagas program transmigrasi Djajaloka untuk menyejahterakan eks pejuang Perang Kemerdekaan. Gejolak politik dan transisi kekuasaan menjadikannya melenceng dari tujuan awal.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo melanjutkan pendidikan ke Belanda. Dia berjejaring dengan orang-orang dari berbagai negara dalam gerakan melawan imperialisme dan kolonialisme.
bg-gray.jpg
Taklik talak dalam buku nikah pada mulanya tak digubris. Sempat dituduh hendak mengubah hukum Islam.
Bongkahan ubin menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan oleh penjajah dan penguasa feodal yang digaungkan Multatuli melalui bukunya, Max Havelaar.
Bongkahan ubin menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan oleh penjajah dan penguasa feodal yang digaungkan Multatuli melalui bukunya, Max Havelaar.
Apakah stok tokoh di negeri ini masih tersedia banyak?
Apakah stok tokoh di negeri ini masih tersedia banyak?
Dimulai dari dunia militer, dasi berkembang menjadi aksesoris pelengkap yang kini lumrah dipakai oleh siapa saja.
Dimulai dari dunia militer, dasi berkembang menjadi aksesoris pelengkap yang kini lumrah dipakai oleh siapa saja.
Meski diluluhlantakkan gempa dahsyat, Chile tetap berhasil menghelat Piala Dunia 1962.
Meski diluluhlantakkan gempa dahsyat, Chile tetap berhasil menghelat Piala Dunia 1962.
Setiap muslim berharap dapat menyempurnakan keislamannya dengan naik haji ke Makkah. Ini sejarah muslim Indonesia pergi ke Tanah Suci.
Setiap muslim berharap dapat menyempurnakan keislamannya dengan naik haji ke Makkah. Ini sejarah muslim Indonesia pergi ke Tanah Suci.
Di balik layar “You and I” yang sarat pergulatan batin. Menyingkirkan segi dramatis dan politis demi keadilan dan kemanusiaan.
Di balik layar “You and I” yang sarat pergulatan batin. Menyingkirkan segi dramatis dan politis demi keadilan dan kemanusiaan.
transparant.png
bottom of page