Diperbarui: 5 hari yang lalu
MENJELANG Pemilu 1971, pemilu pertama di masa Orde Baru, Mohammad Hatta, wakil presiden RI pertama, bertolak ke Belanda. Kepergian Bung Hatta ke Belanda dikabarkan dalam rangka berobat. Halida, putri bungsu Bung Hatta, waktu itu berusia 15 tahun, turut menyertai bersama ayah dan ibunya, Rahmi Hatta. Kedatangan mereka disambut Duta Besar Taswin Natadiningrat.
“Ayah dan ibu bertemu dengan Ratu Juliana di Istana Soestdijk. Lalu ada kunjungan istirahat atas undangan Anak Agung Gde Agung (Dubes RI untuk Austria) ke Vienna,” kenang Halida (67) kepada Historia.ID.
Namun, di balik kunjungan Bung Hatta ke negeri Belanda itu ternyata terselip muatan politis. Indikasi tersebut disaksikan oleh Joehazar Sirie Gelar Sutan Perpatih, pejabat atase penerangan pada Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) di Belanda. Saat itu, Joehazar tengah disibukkan dengan persiapan pemilu bagi warga Indonesia di Belanda. Tiba-tiba KBRI menerima pemberitahuan tentang kunjungan Bung Hatta bersama istri ke Belanda. Segenap staf KBRI pun dibikin kaget lantaran Bung Hatta sudah berhari-hari tinggal di Den Haag.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















