top of page

Menikah di Tanah Merah

Jatuh cinta dalam perjalanan ke pembuangan, Wiranta dan Nyi Cacih menjadi pengantin pertama di Tanah Merah.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Wiranta (kiri) dan Nyi Cacih (tiga dari kiri) dalam peringatan 50 tahun pernikahan mereka di Bandung, 10 Agustus 1977. (Repro Pikiran Rakyat).

7 Feb 2020
3 menit membaca

KAMP Tanah Merah, Boven Digul, adalah neraka bagi orang-orang buangan. Namun, pengasingan di tengah belantara Papua itu tak menghalangi dua insan yang ingin menyatukan cinta. Mereka adalah Wiranta dan Nyi Cacih, pengantin pertama di kamp para pembangkang kolonial itu.


Wiranta dan Nyi Cacih ikut dalam rombongan pertama yang dikirim pada Desember 1926. Keduanya dari Bandung. Wiranta seorang guru dan wartawan, sedangkan Nyi Cacih adalah anak gadis berusia 14 tahun yang turut dibuang bersama ayahnya, Sukanta Atmaja, seorang pegawai kereta api di Bandung.


Bersama sekitar 300 orang mereka berlayar dari Tanjung Priuk menuju Surabaya, transit di Makassar dan Ambon, lalu ke muara Sungai Digul di Merauke. Dari muara, mereka menyusuri sungai hingga ke hulu yang jaraknya 300 km. Barulah mereka sampai di Tanah Merah.


Hampir sebulan di atas kapal yang membosankan itu, justru mendekatkan Wiranta dengan Nyi Cacih. Mereka pun saling jatuh cinta.


Di Tanah Merah, Wiranta merupakan tahanan yang cukup aktif. Ia memimpin organisasi kesenian, olahraga, dan sepak bola yang diberi nama Kunst, Sport en Voetbal Vereeniging Digoel (KSDV). Sementara itu, cintanya dengan Nyi Cacih terus bersemi dan tak bisa dibendung lagi.


“Delapan bulan setelah berada di Digul, Wiranta menghadap Asisten Residen, meminta izin untuk melangsungkan perkawinan dengan Nyi Cacih. Ternyata Asisten Residen kebingungan karena di sana belum membentuk Dinas Agama (Islam),” tulis Pikiran Rakyat, 6 Agustus 1977.


Sebab itu, Harun Al-Rasyid, seorang buangan asal Surakarta yang juga murid Haji Misbach, ditunjuk sebagai penghulu. Sementara itu, dua orang kawan Wiranta, Uton dan Dasri yang juga berasal dari Bandung, menjadi saksinya. Akhirnya, hari itu, 10 Agustus 1927, Wiranta dan Nyi Cacih menjadi pasangan pertama yang menikah di kamp pembuangan Tanah Merah.


Menurut Sunaryo Mangunadikusumo dkk. dalam Citra dan Perjuangan Perintis Kemerdekaan Seri Perjuangan Ex Digul, pernikahan tersebut tidak dicatatkan pada kantor pencatat nikah. Selain karena tidak adanya kantor pencatatan, tindakan itu merupakan salah satu bentuk pembangkangan.


“Pernikahan tidak tercatat di kantor pencatatan nikah pemerintah kolonial ini sebenarnya diajurkan dan dilakukan oleh orang-orang Sarekat Islam. Pendirian Sarekat Islam ini terus dilaksanakan oleh pengikut-pengikutnya yang dibuang ke Digul,” tulis Sunaryo dkk.


Pernikahan di Boven Digul cukup dilakukan di hadapan kiai sebagai penghulu dan dua orang saksi di muka keluarga pengantin wanita. Cara ini sebenarnya sama dengan yang dilakukan penganut agama Islam sebelum adanya kantor pencatatan nikah.


Pernikahan Wiranta dan Nyi Cacih tak hanya sampai di situ. Pada malam harinya diadakan pesta oleh seluruh penghuni kamp. “Asisten Residen mengirimkan satu peti bir dan kue-kue. Ia turut bergembira. Untuk pertama kalinya di Digul berlangsung satu pesta,” tulis Pikiran Rakyat.


Saat itu, hanya ada dua alat musik yakni biola dan gitar yang dibawa oleh salah seorang tahanan. Kedua alat musik itu akhirnya digunakan untuk mengiringi seorang tahanan yang merupakan penyanyi asal Medan yang dikenal sebagai Samaudin Kacamata. Lagu Keroncong Kemayoran menjadi lagu favorit malam itu. Acara pun berlangsung hingga pagi.


Akibat acara semalam suntuk itu, Asisten Residen Boven Digul dicopot. Ia dianggap terlalu memanjakan tahanan dan dituduh telah melakukan persekongkolan. Selain itu, anggaran pemerintah kolonial untuk Boven Digul juga terkuras.


Sementara itu, rumah tangga Wiranta dan Nyi Cacih bertahan hingga mereka bebas dari Boven Digul. Mereka dikaruniai tiga orang anak dan telah memiliki 17 cucu saat memperingati 50 tahun perkawinan mereka pada 10 Agustus 1977 di Bandung.


Wiranta juga masih sempat menulis ketika di Boven Digul. Tulisannya yang berjudul “Antara Hidup dan Mati” atau “Buron dari Boven Digul” diterbitkan dalam Cerita dari Digul yang disusun oleh Pramoedya Ananta Toer.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Pengalaman dan usianya membuat Gatot Soebroto acap jadi tempat mengadu para perwira. Namanya tetap abadi di banyak tempat, mulai jalan-jalan protokol hingga RSPAD.
bg-gray.jpg
Kasus perdagangan anak di daerah transmigrasi Rawa Makmur, Kalimantan Timur ungkap kemiskinan ekstrem yang menjerat kehidupan para transmigran. Praktik korupsi aparat disinyalir biang keladinya.
bg-gray.jpg
Panglima tempur yang memadamkan gejolak di berbagai daerah. Menggagas banyak hal penting setelah aktif lagi di Angkatan Darat.
bg-gray.jpg
Sebagai gubernur militer, Gatot Soebroto berperan dalam penumpasan pemberontakan PKI di Madiun. Dia disebut turut bertanggung jawab atas eksekusi mati Amir Sjarifoeddin cs.
Di tengah pandemi orang berharap vaksin menjadi solusi. Bagaimana ketika dahulu vaksin belum dikenal?
Di tengah pandemi orang berharap vaksin menjadi solusi. Bagaimana ketika dahulu vaksin belum dikenal?
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Akankah Arab Saudi mengulang prestasi di Piala Dunia 1994?
Akankah Arab Saudi mengulang prestasi di Piala Dunia 1994?
Usai menginspirasi jutaan orang dalam sepakbola, kini sang legenda pergi untuk selamanya. Jakarta beruntung sempat menjadi salah satu kota yang dikunjungi Maradona.
Usai menginspirasi jutaan orang dalam sepakbola, kini sang legenda pergi untuk selamanya. Jakarta beruntung sempat menjadi salah satu kota yang dikunjungi Maradona.
Pele, Maradona, Ronaldo hingga Messi jago dalam prestasi. Dalam hal pesona dan brand, Beckham belum tertandingi.
Pele, Maradona, Ronaldo hingga Messi jago dalam prestasi. Dalam hal pesona dan brand, Beckham belum tertandingi.
Menghormati bendera bukan untuk memuliakannya tapi menghargai nilai kebangsaan di dalamnya.
Menghormati bendera bukan untuk memuliakannya tapi menghargai nilai kebangsaan di dalamnya.
transparant.png
bottom of page