top of page

Menyadap Angkatan Darat

Penyadapan Amerika Serikat bukan hal baru. Pasca Gerakan 30 September 1965, Amerika Serikat memberikan perangkat komunikasi yang dapat disad

loading_historia_white.gif
transparant.png

Tentara sedang menjaga demonstrasi pada Hari Buruh 1 Mei 2013.

6 Nov 2013
2 menit membaca

Tentara sedang menjaga demonstrasi pada Hari Buruh 1 Mei 2013. Foto: Micha Rainer Pali.


MANTAN anggota CIA dan kontraktor Badan Keamanan Nasional (NSA), Edward Snowden, membocorkan informasi rahasia bahwa Amerika Serikat melakukan penyadapan terhadap negara-negara sekutu mereka di Eropa dan negara-negara di Asia tenggara.


Australia menjadi bagian jaringan spionase global bersama Amerika Serikat. Seperti dilansir The Sydney Morning Herald, 31 Oktober 2013, Australia menggunakan kantor-kantor kedutaan di Asia, termasuk Indonesia, untuk menyadap telepon dan data rahasia. Data intelijen disadap dari Kedutaan Australia di Jakarta, Bangkok, Hanoi, Beijing dan Dili, juga Kantor Komisi Tinggi di Kuala Lumpur serta Port Moresby. Kedutaan Australia di Jakarta memainkan peran penting untuk mengumpulkan data intelijen terkait ancaman terorisme dan penyelundupan manusia. Namun, fokus utamanya adalah intelijen bidang politik, diplomasi, dan ekonomi.


Penyadapan Amerika Serikat di Indonesia bukan barang baru. Amerika Serikat menyokong Angkatan Darat untuk menumpas Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dituduh sebagai dalang peristiwa Gerakan 30 September 1965. Menurut John Roosa dalam Dalih Pembunuhan Masal Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto, Angkatan Darat memerlukan peralatan komunikasi untuk menghubungkan berbagai markas di seluruh tanah air dan berkoordinasi dalam melawan PKI.


“Suatu ketika pada akhir 1965 Amerika Serikat menerbangkan perangkat komunikasi radio lapangan (mobile radio) yang sangat canggih dari Pangkalan Udara Clark di Filipina dan semuanya dikirim ke markas besar Kostrad di Jakarta. Sebuah antena dibawa masuk ke dan dipasang di depan markas besar Kostrad,” tulis Roosa.


Wartawan penyelidik Kathy Kadane dalam wawancara dengan para mantan pejabat tinggi Amerika Serikat di akhir 1980-an, menemukan bahwa Amerika Serikat memantau komunikasi Angkatan Darat melalui radio-radio tersebut. CIA memastikan bahwa frekuensi-frekuensi yang akan digunakan Angkatan Darat diketahui sebelumnya oleh NSA. NSA menyadap siaran-siaran radio itu di suatu tempat di Asia Tenggara, dan sesudah itu para analis menerjemahkannya. Hasil penyadapan kemudian dikirim ke Washington.


Dengan demikian, menurut John Roosa, Amerika Serikat memiliki detil bagian demi bagian laporan penyerangan Angkatan Darat terhadap PKI, misalnya, mendengar “komando-komando dari satuan-satuan intelijen Soeharto untuk membunuh tokoh-tokoh tertentu di tempat-tempat tertentu.”

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page