Diperbarui: 25 Sep
SEBAGAI orang tua, Hendrik Nanlohy dan Magdalena Watimurij boleh bangga dengan anaknya. Dua di antaranya jadi orang berpangkat dan mapan, sama seperti harapan kebanyakan orang tua zaman sekarang. Kedua anak mereka penghasilannya di atas 100 gulden ketika harga emas sekitar 2 gulden untuk satu gram. Selain tanah yang luas, mereka juga bisa membeli mobil.
Mathijs Nanlohy, kerap disebut Thijs Nanlohy, lahir pada 3 Februari 1909. Menurut Benjamin Bouman dalam Van Driekleur tot Rood-Wit: De Indonesische officieren uit het KNIL 1900–1950, Mathijs sudah jadi perwira sejak 1931 setelah lulus dari Akademi Militer Kerajaan Belanda di Breda, Belanda. Setelah jadi perwira, dia menikah dengan Jeane Amalia Angenetta Niels pada 1937.
Sementara itu, adiknya, Benoni Pedro Anthoni Nanlohy, kelahiran 29 Desember 1909, juga lulusan Akademi Militer Breda tahun 1933. Tak lama setelah dilantik, dia menikahi Sytske Baron. Pada 1936, Benoni kawin lagi dengan A.E.A. Felinger. Setelah lulus dari Akademi Militer Breda, Mathijs dan Benoni menjadi letnan dua infanteri tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) di Hindia Belanda.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















