- 22 Feb 2023
- 4 menit membaca
Diperbarui: 29 Jun
LANTAI Penjara Glodok yang dingin lebih tepat menjadi tempat meringkuknya penjahat ketimbang pemusik. Tapi, di tempat hukuman itulah grup musik legendaris Koes Plus pernah ditahan pemerintahan Sukarno. Waktu itu nama band ini masih Koes Bersaudara. Personelnya terdiri dari kakak-beradik: Koestono Koeswoyo (Tonny), Koesnomo Koeswoyo (Nomo), Koesyono Koeswoyo (Yon), dan Koesroyo Koeswoyo (Yok).
“Tahun 1965 sangat mengesankan bagi Koes Bersaudara. Bukan karena kami masuk Penjara Glodok, tapi tentang rencana negara di balik itu,” celetuk Yok sang gitaris dalam Kisah dari Hati: Koes Plus Tonggak Industri Musik Indonesia yang ditulis Ais Suhana.
Di tengah gebyar slogan Trisakti “berkepribadian dalam kebudayaan Indonesia” yang digaungkan Presiden Sukarno, Koes Plus dituding mengusung aliran musik kebarat-baratan. Gaya bermusik mereka sekilas memang mirip dengan musikus pop Barat masa itu seperti Elvis Presley dan The Beatles. Bung Karno menyebutnya musik “ngak ngik ngok”. Sebuah label musik yang tidak mencerminkan kebudayaan Indonesia.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















