top of page

Yok Koeswoyo yang Tinggal dari Koes Plus

Personel yang tersisa dari band Koes Bersaudara dan Koes Plus. Yok berbagi cerita termasuk sisi-sisi sentimentil dalam lagu ciptaannya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Koesroyo "Yok" Koeswoyo, personel Koes Bersaudara dan Koes Plus, di sela-sela pemutaran film dokumenter "Koesroyo: The Last Man Standing" di CGV FX Sudirman, Jakarta Selatan (25/11/2024). (Riyono Rusli/Historia.ID).

27 Nov 2024
4 menit membaca

Diperbarui: 3 Sep

SESOSOK pria sepuh bertubuh ramping itu duduk di atas kursi. Penampilannya sederhana saja, mengenakan kemeja batik dengan peci yang melekat di kepala. Jauh dari kesan seorang rocker. Sejurus kemudian dia memperkenalkan diri. “Saya anggota Koes Bersaudara dan Koes Plus yang masih hidup sampai hari ini,” ujarnya.


Adegan itu menjadi pembuka film dokumenter Koesroyo: The Man Last Standing karya sineas Linda Ochy. Di masa jayanya, Koesroyo “Yok” Koeswoyo itu adalah salah satu punggawa kelompok musik Koes Bersaudara yang kemudian bertransformasi jadi Koes Plus.


Yok yang kini berusia 81 tahun menjadi satu-satunya personel yang tersisa dari band legendaris Indonesia itu. Film dokumenter ini mengisahkan perjalanan hidup Yok Koeswoyo, sebagai anggota Koes Bersaudara dan Koes Plus, termasuk kehidupan pribadinya.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page