top of page

Oppenheimer, Proyek Manhattan dan Bhagavad Gita (Bagian I)

Saya menjadi Maut penghancur dunia, kata Julius Robert Oppenheimer yang mengutip Bhagavad Gita selepas mengembangkan bom atom.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Julius Robert Oppenheimer mendampingi direktur Manhattan Project, Brigjen Leslie Richard Groves Jr. di TKP uji coba bom atom (lanl.gov)

14 Jul 2023
4 menit membaca

Diperbarui: 18 Feb

GURUN Jornada del Muerto, New Mexico, Amerika Serikat pada 16 Juli 1945. Sekira pukul 5.30 pagi, fisikawan J. Robert Oppenheimer di base camp-nya mematung dengan wajah datar meski psikisnya tegang. Sejumlah rekan sesama ilmuwan Laboratorium Los Alamos dan kepala operasi lapangan Proyek Manhattan, Brigjen Thomas Francis Farrell, mengelilingnya. Mereka semua sedang menyaksikan “Trinity Test” atau ujicoba perdana bom atom.


Jenderal Farrell masih ingat betul ekspresi Oppenheimer di detik-detik jelang detonasi dalam ujicoba pagi itu. Ekspresinya begitu tegang, nyaris seperti tidak bernafas. Baru ketika bom atom itu sudah diledakkan dan memancarkan sinar menyilaukan serta gemuruh dahsyat, ekspresi Oppenheimer berangsur rileks.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
transparant.png
bottom of page