top of page

Paman Choo, Pelatih Asing Pertama Timnas Sepakbola Indonesia

Pelatih asing pertama timnas sepakbola Indonesia setelah kemerdekaan adalah seorang Tionghoa asal Singapura.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 15 Jul 2017
  • 4 menit membaca

TIM nasional (timnas) sepakbola Indonesia kerap ditangani oleh pelatih asing. Pelatih asing pertama timnas setelah Indonesia merdeka adalah Choo Seng Quee dari Singapura. Paman Choo, begitu dia disapa, meramu sejumlah talenta Indonesia untuk pentas di Asian Games pertama tahun 1951 di New Delhi, India.


Paman Choo lahir pada 1 Desember 1914 dan bermain sebagai gelandang tengah Singapore Chinese FA. Namanya melejit sejak melatih timnas Singapura periode 1949-1950. Setahun kemudian, dia dipinang PSSI untuk menukangi Maulwi Saelan cs. hingga tahun 1953.


Asian Games I mempertandingkan tujuh cabang olahraga: atletik, renang loncat indah dan polo air, kesenian (arts), sepakbola, angkat besi, basket, dan balap sepeda. Komite Olahraga Indonesia memutuskan hanya mengikuti dua cabang olahraga yaitu atletik (17 atlet) dan sepakbola (18 atlet).


Ke-18 pemain timnas antara lain Maulwi Saelan (kiper), Bing Mo Heng (kiper), Sunar (full-back), Sardjiman (full-back), Ateng (gelandang), Tan Liong Houw, Sidhi (poros halang) Pasanea (poros halang), Chaerudin (full-back/gelandang), Jahja (gelandang), Sugino (kiri luar), Thee San Liong (kiri/kanan dalam), Ramlan (muka tengah), Bee Ing Hien (kanan dalam), Witarsa (kanan luar), Soleh (kiri/kanan luar), Ramli (muka tengah/kanan dalam), dan Darmadi (muka tengah/kiri dalam).


Petinggi PSSI, Raden Maladi, merasa jika Indonesia ingin berbicara banyak di Asian Games I, timnas harus punya arsitek jempolan. Paman Choo dari Negeri Singa dianggap cocok menukangi timnas. Pimpinan timnas dipercayakan kepada Tony Wen dan dr. Halim sebagai wakil PSSI untuk menghadiri pertemuan internasional.


Cabang sepakbola di Asian Games I diikuti enam negara: Afghanistan, Burma, India, Indonesia, Iran dan Jepang. Sayangnya, timnas belum bisa unjuk gigi. Di babak penyisihan, timnas dihajar 3-0 oleh tuan rumah India yang tampil nyeker alias tanpa sepatu pada 5 Maret 1951.


Mengutip data RSSSF (Rec.Sport.Soccer Statistics Foundation), gawang Maulwi Saelan dijebol Sahu Mewalal di menit ke-27. Dua gol lainnya yang bersarang ke gawang timnas lahir dari gol bunuh diri bek Chaeruddin Siregar di menit ke-42 dan 50. India mengamankan medali emas setelah membekap Iran 1-0.


Menurut buku Olahraga Indonesia dalam Perspektif Sejarah, kekalahan dari India agak terhibur karena beberapa hari kemudian, pada 9 Maret 1951, timnas mengalahkan timnas Burma (Myanmar) 4-1 dalam pertandingan persahabatan yang diadakan di New Delhi.


Tur Singapura dan Timur Jauh

Meski gagal di Asian Games I, Paman Choo sukses membuat timnas Indonesia menggegerkan Singapura dalam tur pada Mei 1951. Tur ini dibiayai sendiri oleh PSSI dan akomodasinya dibantu Konsulat Jenderal RI di Singapura. Akomodasi tempat menginap hanya sebuah aula sekadar untuk merebahkan badan para pilar timnas. Walau akomodasinya pas-pasan, bukan berarti timnas tampil loyo.


Dalam Drama itu Bernama Sepakbola, Arief Natakusumah mencatat pada 5 Mei 1951, timnas menghajar Singapore Malays, juara Community League Singapore dan Federation of Malaya, dengan skor 7-0 di depan tatapan 8.000 penonton. Semenanjung Malaya geger. Koran-koran The Sunday Times, Strait Times, Singapore Free Press, Singapore Standard, menuai berita besar.


Timnas lantas mempermalukan tim Singapura A dengan skor 4-1 dan mengimbangi tim Combine Services (tentara Inggris di Singapura) 0-0. Kemenangan kembali diraih pada 13 Mei 1951 kontra Combine Singapore 4-1. Sehari setelahnya, timnas bermain imbang 1-1 melawan tim Combine Chinese.


Setelah tur Singapura, pada 1953, Paman Choo membawa timnas untuk Tur Timur Jauh (Far Eastern Tour) ke tiga negara: Manila (Filipina), Bangkok (Thailand), dan Hong Kong. Tur ini dalam rangka menghadapi Asian Games II di Manila.


Di Manila, pada 18-21 April 1953, timnas digdaya menggilas tim Manila Football League 8-0, All Students XI 7-0 dan Manila Interport 5-0.


Pertandingan Di Hong Kong pada 25-30 April, Paman Choo sukses membawa timnas memecahkan mitos bahwa Hong Kong tak pernah bisa dikalahkan di kandang sendiri. Timnas menggasak Hong Kong Interport XI 4-1, Hong Kong Selection 3-2, serta Combine Chinese 5-1. Timnas hanya sekali kalah lawan Korea Selatan 1-3 pada hari terakhir tur di Hong Kong.


Berlanjut ke Negeri Gajah Putih, kegarangan timnas berlanjut dengan memakan korban Chaisot yang dibantai 6-2 dan Thai Royal Air Force 7-0. Tujuh tahun setelahnya, Paman Choo kembali terkenang dengan tur itu, terutama kala menukangi timnas Malaysia jelang laga kontra Hong Kong pada Oktober 1960.


“Timnas Indonesia dulu belum dikenal dan dihormati ketika tampil di Hong Kong. Tapi ketika mereka mengalahkan All Hong Kong (tim Inerport Hong Kong XI) 4-1 di partai pertama dalam tiga laga tur, bantuan polisi ekstra terpaksa dipanggil untuk meredam penonton yang tak mendapatkan tiket untuk dua laga berikutnya,” tutur Paman Choo dikutip The Strait Times, 28 Oktober 1960.


Selain tur tersebut, timnas juga menghadapi kesebelasan Yugoslavia di Jakarta. Sempat imbang di laga pertama, namun pada pertandingan kedua, timnas harus mengakui keunggulan tim tamu dengan skor 2-0.


Menurut buku Olahraga Indonesia dalam Perspektif Sejarah, sejak berdirinya PSSI pada 1930, tahun 1953 barangkali merupakan puncak keemasan PSSI karena tahun mendulang kemenangan yang berturut-turut dalam Tur Singapura dan Tur Timur Jauh.


Sayangnya, kegemilangan dalam tur tersebut tidak terulang dalam Asian Games II di Manila pada 1954. Timnas sempat membalas dendam dengan mengalahkan tim terkuat, India 3-0 di babak penyisihan. Namun, dalam perebutan juara ketiga, timnas malah kalah dari Burma, negara yang dikalahkan dengan mudah dalam laga persahabatan di India pada 1951.


Tugas Paman Choo menukangi timnas berakhir pada 1953. Lima tahun berselang, Paman Choo mengarsiteki timnas Malaysia. Dia tak pernah jauh-jauh dari sepakbola meski tubuhnya terus tergerus usia, hingga tutup usia pada 30 Juni 1983 pada umur 68 tahun. Setahun sebelumnya, Paman Choo menerima penghargaan dari PSSI.


“Federasi Sepakbola Indonesia (PSSI) mempersembahkan medali emas First Class atas jasa-jasanya terhadap sepakbola Indonesia. Pemberiannya dilakukan langsung oleh Mr. Sopariyo, executivechairman PSSI di kediaman Choo di Thomson Road (Singapura),” tulis The Strait Times, 4 Agustus 1982.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Sebagai lulusan sekolah guru, Sudiro menghabiskan masa mudanya dengan menjadi guru sekaligus aktivis pergerakan nasional.
bg-gray.jpg
Selain jago catur, Sudiro muda mengisi hari-harinya semasa sekolah dengan aktif dalam pergerakan Jong Java dan kepanduan.
bg-gray.jpg
Kelahirannya disambut gembira oleh kakeknya sebagai cucu pertama. Diberinya nama Sudiro yang berarti berani. Selamat dari wabah Flu Spanyol.
bg-gray.jpg
Jejak pertama Maria Ullfah di Batavia. Membawanya masuk ke gelanggang pergerakan nasional.
Magnetron merupakan komponen penting dalam teknologi radar untuk perang. Seorang insinyur mengembangkannya untuk mesin pemanas makanan.
Magnetron merupakan komponen penting dalam teknologi radar untuk perang. Seorang insinyur mengembangkannya untuk mesin pemanas makanan.
Terpilih secara aklamasi menjadi Presiden RI, bagaimana perjalanan hidup Sukarno?
Terpilih secara aklamasi menjadi Presiden RI, bagaimana perjalanan hidup Sukarno?
Asrul Sani seniman legendaris, dikenal sebagai sastrawan, penyair, dan sineas. Pernah menjadi anggota laskar rakyat dan lulusan sarjana kedokteran hewan.
Asrul Sani seniman legendaris, dikenal sebagai sastrawan, penyair, dan sineas. Pernah menjadi anggota laskar rakyat dan lulusan sarjana kedokteran hewan.
Perjuangan Soedirman masih belum usai. Ketika sebagian pasukan Sekutu ke Magelang, mereka berjanji tak akan mengusik kedaulatan Indonesia, tetapi para eks tentara Belanda berulah kembali.
Perjuangan Soedirman masih belum usai. Ketika sebagian pasukan Sekutu ke Magelang, mereka berjanji tak akan mengusik kedaulatan Indonesia, tetapi para eks tentara Belanda berulah kembali.
Pada masa senjanya NH Dini mengalami beberapa penurunan kesehatan. Namun ia tetap bangkit bahkan mendirikan pondok bacaan dengan bantuan teman-teman. Di akhir masa hidupnya NH Dini bahkan memenerima banyak sekali penghargaan yang membanggakan.
Pada masa senjanya NH Dini mengalami beberapa penurunan kesehatan. Namun ia tetap bangkit bahkan mendirikan pondok bacaan dengan bantuan teman-teman. Di akhir masa hidupnya NH Dini bahkan memenerima banyak sekali penghargaan yang membanggakan.
Pernikahan NH Dini dengan Yves Coffin seorang Diplomat Prancis membawanya mengembara ke berbagai negara. Dengan memiliki 2 anak tidak membuat kehidupan rumah tangganya mudah, namun sang sastrawan tetap menjadi jati dirinya.
Pernikahan NH Dini dengan Yves Coffin seorang Diplomat Prancis membawanya mengembara ke berbagai negara. Dengan memiliki 2 anak tidak membuat kehidupan rumah tangganya mudah, namun sang sastrawan tetap menjadi jati dirinya.
transparant.png
bottom of page