top of page

Pangeran Diponegoro Hulunya Gerakan Kemerdekaan

Seperti sungai, perlawanan Pangeran Diponegoro adalah aliran deras yang berujung pada kemerdekaan Indonesia.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Anies Baswedan sedang fitting seragam Pemprov DKI Jakarta. (Dok. Pribadi Anies Baswedan).

17 Okt 2017
2 menit membaca

Diperbarui: 17 Agu

ANIES Baswedan resmi menjabat gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. Anies punya perhatian khusus kepada beberapa tokoh sejarah di negeri ini. Alih-alih menyebut “idola” dia lebih senang menyebutnya dengan “orang-orang yang dia perhatikan dengan saksama.” Ada beberapa yang dia perhatikan betul segala tindak-tanduknya sejak kecil.


Salah satu tokoh sejarah yang mencuri perhatiannya adalah Pangeran Diponegoro. Pangeran yang bernama asli Mustahar dan sejak kecil menyandang nama Raden Mas Antawirya itu terkenal karena mengobarkan Perang Jawa (1825-1830). Perang lima tahun itu telah menyebabkan Belanda kehabisan akal dan nyaris membuat Belanda jatuh bangkrut.


Frustrasi menghadapi gempuran-gempuran Pangeran Diponegoro, Belanda menyusun siasat licik: mengundang Diponegoro untuk berunding. Tanpa curiga Diponegoro datang memenuhi undangan Belanda ke Magelang. Namun Belanda mengkhianati Diponegoro, menangkapnya saat perundingan sedang berjalan. Penangkapan Diponegoro sekaligus menandai berakhirnya Perang Jawa.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
transparant.png
bottom of page