top of page

Pangeran William, Putri Diana, dan Palestina

Bekas intel Inggris menyingkap spekulasi Putri Diana “disingkirkan” karena berniat membela Palestina. Benarkah?

loading_historia_white.gif
transparant.png

Putri Diana saat mendukung kampanye antiranjau PBB, Februari 1997. (ICBL).

23 Feb 2024
6 menit membaca

Diperbarui: 31 Agu

SETELAH 139 hari kebrutalan genosida Israel di Jalur Gaza yang menewaskan lebih dari 29 ribu warga Palestina, Pangeran William akhirnya buka suara. Putra mahkota Inggris itu mulai menyerukan gencatan senjata, tak peduli Perdana Menteri Rishi Sunak dan bahkan ayahnya sendiri, Raja Charles III, mendukung aksi-aksi brutal Israel.


Sebelumnya, Pangeran William dan Putri Kate melalui juru bicaranya, sebagaimana dikutip People, 12 Oktober 2023, memang sempat membela dalih Israel untuk mempertahankan diri. Akan tetapi setelah sekira empat bulan berselang, Pangeran William berubah dan mendorong masuknya bantuan kemanusiaan di Gaza secara masif.


Seruan Pangeran William itu dilontarkan tak lama setelah Amerika Serikat untuk ketiga kalinya memveto draf proposal resolusi gencatan senjata yang diajukan di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB) pada Selasa (20/2/2024). Delegasi Inggris sendiri memutuskan kembali abstain.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page