Diperbarui: 5 Agu
SEBAGAI anak raja Barru di Kabupaten Barru dekat Parepare, Sulawesi Selatan, dia mendapat pendidikan yang baik di zaman Hindia Belanda. Dia belajar di MULO dan Mosvia Makassar.
Dari tempat pendidikan itu pula sejak muda dirinya dekat dengan pergerakan nasional. Dia kenal Paiso, tokoh pergerakan yang sampai dibuang ke Digul, dan mantunya yang bernama Manai Sophiaan. Sejak 1945 dia sudah mendukung kemerdekaan Indonesia. Hal itulah yang mendorong dirinya berangkat ke Jawa pada akhir 1945.
Di Jawa, dirinya bertemu Kahar Muzakkar, yang pernah belajar di sekolah Muhamadiyah di Solo, dan menjadi dekat. Mereka bersiap membangun Tentara Rakyat Indonesia (TRI) di Sulawesi, kendati sebelumnya sudah ada orang-orang Sulawesi di beberapa kelaskaran seperti Kesatuan Rakjat Indonesia Sulawesi (KRIS) yang lambangnya keris senjata khas bangsawan Bugis.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















