top of page

Sejarah Indonesia

Penemuan Kota Emas Yang Hilang

Penemuan Kota Emas yang Hilang

Kota kuno dari zaman keemasan Mesir Kuno ditemukan. Disebut sebagai penemuan Mesir terhebat kedua setelah makam Tutankhamun yang fenomenal.

11 April 2021

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Tembok dan jalan-jalan di Kota Emas yang Hilang. (antiquities.gov.eg).

TAHUN lalu, tim peneliti yang dipimpin oleh arkeolog Zahi Hawass memulai penggalian di daerah antara kuil Ramses III dan Amenhotep III dekat Luxor, sekira 500 km di selatan ibu kota Mesir, Kairo. Pencarian ini dilakukan dengan harapan menemukan kuil bagi Firaun Tutankhamun. 


“Tim memilih untuk mencari di wilayah ini karena kuil Horemheb dan Ay ditemukan di daerah ini,” kata Zahi Hawass yang juga mantan menteri negara urusan barang antik Mesir, sebagaimana dikutip Live Science, 10 April 2021.


Namun, para peneliti justru dikejutkan oleh temuan hebat ketika formasi bata lumpur mulai bermunculan dari bawah tanah yang mereka gali. Mereka menyadari baru saja menemukan sisa-sisa kota besar yang kondisinya masih sangat baik. Tampak jalan-jalan kota diapit oleh rumah-rumah. Beberapa tempat dindingnya setinggi 3 m. Rumah-rumah itu memiliki ruangan yang dipenuhi pernak-pernik dan perkakas kehidupan sehari-hari orang Mesir Kuno.


Kota ini berasal dari masa keemasan Mesir Kuno di bawah Raja Amenhotep III, raja ke-9 dari dinasti ke-18. “Lapisan budayanya tidak tersentuh selama ribuan tahun, ditinggalkan oleh penduduk kuno seolah-olah baru terjadi kemarin,” kata Hawass sebagaimana dilansir Phys, 9 April 2021.


Penemuan Mesir Terhebat Kedua

Para arkeolog menyebut kota kuno itu sebagai Kota Emas yang Hilang. Kota ini terkubur di bawah ibu kota Mesir Kuno, Luxor, selama 3.000 tahun terakhir.


Secara historis kota ini dikenal sebagai The Rise of Aten. Pendirinya adalah Firaun Amenhotep III yang memerintah pada 1391–1353 SM. Ia merupakan kakek dari Firaun Tutankhamun atau Raja Tut. 


Kota Emas masih terus dipakai selama pemerintahan bersama Amenhotep III dan putranya, Amenhotep IV atau Akhenaten. Kota itu bahkan terus digunakan selama pemerintahan Tut dan firaun berikutnya, yang dikenal sebagai Ay.


Menurut dokumen sejarah kota itu adalah lokasi bagi tiga istana kerajaan masa Raja Amenhotep III. Kota ini juga merupakan permukiman administratif dan industri terbesar di Luxor pada saat itu.


Tapi peninggalannya tidak dapat ditemukan oleh para arkeolog hingga sekarang. “Banyak peneliti asing mencari kota ini, tapi tidak pernah menemukannya,” kata Hawass.


Maka tak heran kalau kemudian Betsy M. Bryan, profesor Egiptologi di Universitas John Hopkins, berpendapat bahwa kota kuno yang hilang ini merupakan penemuan arkeologi terpenting kedua sejak penemuan makam Tutankhamun pada 1922.


“Penemuan kali ini tak hanya akan memberi gambaran langka tentang kehidupan orang Mesir kuno di era keemasannya,” kata Betsy. “Tetapi juga membantu kita menjelaskan salah satu misteri terbesar dalam sejarah: Mengapa Akhenaten dan [Ratu] Nefertiti memutuskan untuk pindah ke Amarna?”


Seperti diketahui, beberapa tahun setelah Akhenaten memulai pemerintahannya pada awal 1350 SM, Kota Emas ditinggalkan. Ibu kota Mesir dipindahkan ke Amarna.


Wilayah Aten yang Mempesona

Para peneliti menentukan penanggalan Kota Emas yang Hilang dengan mencari benda-benda kuno, seperti tablet berukir dengan segel Amenhotep III. Mereka menemukan benda itu di mana-mana. 


Mereka juga memukan bejana anggur, cincin, kumbang scarab, tembikar berwarna, dan bata lumpur. Temuan ini menegaskan kota itu aktif pada masa pemerintahan Amenhotep III.


Selama tujuh bulan penggalian, para arkeolog telah menemukan beberapa kawasan hunian. Misalnya, mereka menemukan sisa-sisa toko roti di bagian selatan kota. Di dalamnya terdapat area persiapan makanan dan memasak yang berisi oven dan wadah penyimpanan keramik.

“Dapurnya besar, jadi kemungkinan besar melayani pelanggan besar,” catat Live Science.

Di wilayah lain yang sebagiannya belum banyak digali, para arkeolog menemukan sebuah distrik administratif dan permukiman dengan unit-unit yang lebih besar dan tertata rapi. Pagar zigzag, desain arsitektur yang digunakan menjelang akhir dinasti ke-18, menutup area itu.


Untuk masuk ke area permukiman, hanya ada satu pintu masuk. Fungsinya sebagai langkah pengamanan, yakni dengan memberi orang Mesir kuno kendali penuh atas siapa yang masuk dan meninggalkan daerah itu.


Di tempat lain, para arkeolog menemukan area produksi bata lumpur, bahan baku yang digunakan untuk membangun kuil dan bangunan tambahan. Bata lumpur ini memiliki segel Amenhotep III.


Para peneliti juga menemukan lusinan cetakan yang digunakan untuk membuat jimat dan barang-barang dekoratif. “Bukti bahwa kota tersebut memiliki jalur produksi yang ramai yang membuat dekorasi untuk kuil dan makam,” tulis Live Science.


Sementara di seluruh kota, para arkeolog menemukan perkakas yang berhubungan dengan pekerjaan industri. Misalnya, alat pemintal dan tenun. 


Beberapa lokasi penguburan juga ditemukan. Dua kuburan yang ditemukan menyimpan sisa jasad sapi atau banteng dan kuburan seseorang yang lengannya direntangkan ke samping dengan tali yang melilit di lutut. Para peneliti masih menganalisis penguburan ini.


Baru-baru ini, tim menemukan sebuah wadah berisi sekira 10 kg daging kering atau rebus. Pada wadah ini tertulis angka tahun 37.


Selain itu, tim menemukan segel lumpur bertuliskan gm pa Aton. Artinya kira-kira “wilayah Aten yang mempesona”, yakni nama sebuah kuil di Karnak yang dibangun oleh Akhenaten.


“Informasi berharga ini menegaskan bahwa kota itu aktif pada waktu pemerintahan Raja Amenhotep III dan putranya Akhenaten,” kata para arkeolog dalam pernyataan resmi di Antiquities.gov.eg yang diterjemahkan Live Science.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
Seputar Karnak, Kuil Paling Penting di Afrika Utara

Seputar Karnak, Kuil Paling Penting di Afrika Utara

Sudah sejak 150 tahun para arkeolog meneliti Karnak. Akan tetapi asal-usul dan evolusi kompleks kuil dari Peradaban Mesir Kuno itu baru terungkap belum lama ini.
Jalan Panjang Memulangkan Fosil "Manusia Jawa"

Jalan Panjang Memulangkan Fosil "Manusia Jawa"

Akhirnya Belanda serahkan koleksi Dubois. Tidak hanya fosil “Manusia Jawa” tapi juga 28 ribu temuan lain selama Dubois mengeksplorasi Sumatera hingga Jawa.
Ketika Ibukota Khmer Diserbu dan Dijarah Ayutthaya

Ketika Ibukota Khmer Diserbu dan Dijarah Ayutthaya

Konflik antara Kamboja dan Thailand punya sejarah panjang sejak era Khmer dan Ayutthaya yang berimbas pada kejatuhan Angkor.
Candi Preah Vihear dalam Pusaran Sengketa

Candi Preah Vihear dalam Pusaran Sengketa

Riwayat candi yang lebih tua dari Angkor Wat dan sezaman dengan Candi Borobudur. Sudah jadi situs warisan dunia namun melulu dipersengketakan Kamboja dan Thailand.
200 Tahun Perang Jawa: Nama Diponegoro Bakal Terus Hidup

200 Tahun Perang Jawa: Nama Diponegoro Bakal Terus Hidup

Setelah 200 tahun berlalu, Perang Jawa diperingati di Perpusnas RI dalam Pameran 200 Tahun Perang Jawa. Selain tulisan, pelana kuda dan keris Diponegoro turut dipamerkan.
bottom of page