top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Penyergapan Tentara Belanda di Tanah Karo

Sebuah unit militer Belanda hancur lebur dalam suatu penghadangan di wilayah Tanah Karo.

13 Jul 2018

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Patroli tentara Belanda di Binjai, Sumatra Utara. (gahetna.nl).

  • 13 Jul 2018
  • 3 menit membaca

KOTA Binjai pada 13 Juli 1949 tampak lengang. Prajurit I.J.C Hermans masih ingat hari itu cuaca cerah dan kelihatannya begitu aman, damai dan tenteram. Namun, menjelang petang, keadaan di markas militer Belanda mendadak berubah penuh hiruk-pikuk.


“Seorang prajurit dalam keadaan terengah-terengah melapor pada komandan setempat di Binjai. Sang komandan melihat dengan keheranan seorang asing yang tiba-tiba muncul di hadapannya, berpakaian hanya bercelana dalam saja,” kenang Hermans dalam “Ups and Downs in Kompani Doea” termuat dalam kumpulan tulisan, Gedenkboek 511 RI.


Prajurit yang cuma mengenakan sempak itu bernama Jan van Thoor, anggota kolone perbekalan Belanda yang hendak menuju Desa Telagah di Langkat Hulu. Dia salah satu korban pengadangan di Bukit Gelugur, Rumah Galuh dekat kampung Keriahen, Tanah Karo.


Menurut pengakuan Thoor, saat dalam perjalanan ke Telagah tiba-tiba diserbu dan dilumpuhkan tanpa perlawanan. Yang masih hidup ditawan dan dilucuti. Perbekalan dirampas oleh pasukan penyergap. Tak hanya senjata, pakaian yang dikenakan turut dilucuti hingga menyisakan celana dalam.


Beberapa serdadu yang tertangkap adalah Dr. van Bommel, Sersan Donken, Sjengske Vaes, Jan Wolfs, Van Galen, Gerrit Stoffelen, dan Thoor yang berhasil menyelamatkan diri. Mereka dari Kompi 2 Batalion 5-11 yang pernah menghadapi Jerman dalam Perang Dunia II.


Menurut veteran tentara pelajar Amran Zamzami dalam memoarnya, Jihad Akbar di Medan Area, Batalion 5-11 beroperasi di jalur Binjai–Tanjung Pura dan sekitarnya. Pasukan infanteri ini dibantu Barisan Pengawal Negara Sumatera Timur, pasukan lokal yang berpihak pada Belanda. Saat terjadi penyergapan di Langkat, nasib mereka tidak dapat dipastikan. Namun, berdasarkan kesaksian Thoor, banyak tentara Belanda yang terluka berat.


“Kami berhari-hari melakukan patroli yang melelahkan untuk mencari mereka. Tiap kali kami berangkat dengan penuh pengharapan, pada waktu pulang kami selalu merasa terpukul karena tidak berhasil,” catat Hermans mengenai situasi pasca penyergapan.


Terjebak di Basis Gerilya


Penyergapan terjadi karena tentara Belanda berada di wilayah berbahaya. Mereka memasuki sarang lawan. Dalam buku Kadet Berastagi suntingan Arifin Pulungan, Desa Telagah adalah pintu keluar–masuk orang-orang gunung dan gerilyawan Indonesia yang ingin melintas ke dataran tinggi Tanah Karo melalui jalan-jalan tikus (jalan setapak). 


“Sebenarnya apa yang terjadi pada tanggal 13 Juli 1949 dalam peristiwa penelanjangan serdadu Belanda di Desa Telagah adalah hasil penyergapan pasukan TNI Kompi Mohammad Yusuf Husein dari Batalion Nip Xarim yang berlokasi di daerah kantong ini. Dan pasukan yang menyergap itu adalah peletonnya Lukman Husin,” tulis Arifin.


Setelah pertempuran selama satu jam, tentara Belanda kewalahan dan menyerah. Pasukan TNI melucuti senjata mereka. Dalam catatan A.R Surbakti, veteran perang kemerdekaan di Tanah Karo, sebanyak tiga tentara Belanda tewas dan tiga orang ditawan. Beberapa orang dari Barisan Pengawal Negara Sumatera Timur juga jadi korban. Sementara di pihak TNI, Kopral Dahlan dan Prajurit Azis gugur. Keduanya dikebumikan di kampung Gurubenua, Tanah Karo.


“Dua pucuk senjata otomatis dan enam pucuk karaben dirampas dan sebuah truk dibakar,” tulis Surbakti dalam Perang Kemerdekaan II: Di Tanah Karo-Karo dan Dairi Area. Sejak Januari 1949, lanjut Surbakti, memang telah digencarkan operasi penyerangan untuk merebut pos pertahanan Belanda di sepanjang garis status quo. Pada April 1949 setiap batalion menggilir kompi-kompinya untuk menyusup ke daerah pendudukan Belanda.


Tawanan dan Korban


Tentara Belanda melakukan pencarian dengan intensif. Pesawat-pesawat capung (pipercub) Belanda mengedrop obat-obatan dan bahan-bahan pembalut luka untuk pertolongan pertama di sekitar Desa Telaga. Namun, beberapa hari kemudian tak diperoleh berita perihal tentara Belanda yang tertawan.


Setelah gencatan senjata pada 15 Agustus 1949, semua tawanan dipulangkan secara bertahap. Pada Oktober, Van Galen dan Stoffelen dilepaskan disusul Dr. van Bommel dan Sersan Donken.


Prajurit Wolfs dan Vaes dipastikan tewas akibat luka-luka. Jenazah Wolfs diketemukan dan kemudian dimakamkan di pekuburan Belanda di Padang Bulan, Medan. Sedangkan jenazah Vaes, secara resmi dinyatakan hilang.


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page