- 15 Jun 2024
- 4 menit membaca
Diperbarui: 23 Mei
BAGI suku Indian Iroquis, penyu adalah penopang bumi. Ketika anak perempuan Sang Roh Maha Tinggi dibuang dari langit karena hamil akibat hubungan terlarang, ia mendarat di atas seekor penyu. Dengan lumpur yang melekat di punggung penyu, ia pun membentuk bumi. Mayor John Norton yang berdarah Indian Cherokee, Skotlandia (dan kemudian diangkat sebagai Indian Mohawk) mendokumentasikan kepercayaan ini dalam The Journal of Major Norton (1816).
Mitologi Hindu di Bali juga meninggikan penyu. Mereka meyakini bahwa Dewa Wisnu menjelma menjadi Badawangnala (penyu) dan menyangga Gunung Mandara sehingga bumi tak tenggelam serta menemukan kembali tirta amerta (air kehidupan). Peran penting penyu dalam kosmologi penciptaan ini didokumentasikan Jose Miguel Covarrubias, seniman Meksiko yang awalnya berada di Bali untuk berbulan madu bersama istrinya, Rosa Rolando, pada 1930.
Terpesona oleh daya tarik alam dan filosofi masyarakat Bali, suami-istri ini memutuskan kembali pada 1933. Covarrubias melatih keterampilan berbahasa Bali dengan menerjemahkan manuskrip mitologi penciptaan, Catur Yoga. Dalam The Island of Bali, dia mencatat “Pada awalnya adalah ketiadaan, semuanya hampa, hanya ada ruang kosong. Dengan bermeditasi, Sang Dewa Ular Antaboga menciptakan penyu Bedawang, di atasnya melingkar dua ekor ular, sebagai penopang dunia.”
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















