- 17 Mei 2013
- 2 menit membaca
Diperbarui: 21 Mei
KETUA partai oposisi, Asosiasi Restorasi Jepang, Toru Hashimoto melontarkan pernyataan kontroversial mengenai perempuan penghibur (ianfu) pada 14 Mei 2013. Menurut Walikota Osaka tersebut, perekrutan perempuan penghibur pada masa perang diperlukan untuk menjaga kedisiplinan tentara Jepang.
“Dia juga mengatakan bahwa tentara dan prostitusi merupakan satu paket yang berjalan berdampingan,” demikian dilansir China Radio Internasional Online, indonesian.cri.cn, 15 Mei 2013. “Dia menambahkan bahwa Jepang harus mengoreksi kesalahannya apabila Jepang terbukti pernah menculik dan memaksa perempuan penghibur.”
Namun, dalam rapat kabinet, pemerintah Jepang membantah dan memastikan bahwa tiada bukti terkait perekrutan ianfu. Meski pemerintah Jepang berkali-kali menekankan akan mengintrospeksi kesalahannya di masa lalu, sejumlah politisi sayap kanan kerap melontarkan pernyataan yang membenarkan agresi yang memicu protes dari negara-negara bekas jajahan Jepang.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















