ANAK-anak Omar Dani, mantan Panglima TNI Angkatan Udara era Sukarno, masih ingat perlakuan bengis tentara penjaga Rumah Tahanan Militer (RTM) Nirbaya. Penjagaan bagi keluarga yang berkunjung sedemikian ketat.
Bekal makanan yang dibawa harus melewati pemeriksaan petugas RTM. Kadang kala penjaga bertindak berlebihan dengan membongkar isi rantang lalu mempreteli lauk pauknya. Kesan itulah yang melekat ketika awal-awal ayah mereka masuk ke Nirbaya pada pertengahan 1966.
“Itu sayurnya yang kita bawa sampai di-udeg-udeg segala,” kata Dian Sri Indrapuri, anak kedua Omar Dani, kepada Historia.ID. Saat itu, Dian masih berusia delapan tahun.
Pengalaman kurang lebih sama dirasakan Oei Tjoe Tat, mantan menteri negara sekabinet dengan Omar Dani. Oei menjadi penghuni Nirbaya dari 1966 hingga 1977. Dalam Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Sukarno yang ditulis Pramoedya Ananta Toer, Oei mengenang, kalau keluarganya berkunjung ke Nirbaya, seorang pengawal duduk memantau dari jarak yang sangat dekat di samping keluarga.
“Tentu dengan kewaspadaan penuh untuk mencegah kemungkinan istri saya membawa surat atau barang-barang lain. Kecurigaan sementara pihak, siapa tahu kami berontak, dapat dipahami,” tutur Oei
Koran dan majalah menjadi bahan bacaan terlarang di Nirbaya. Begitu pula dengan buku-buku bertema sosial, politik, ekonomi, dan sejarah. Hanya buku bertema keagamaan yang boleh masuk menemani para tapol.
“Dalam praktiknya lucu juga karena di antara para komandan kamp atau inrehab (instalasi rehabilitasi) jarang yang mengerti bahasa asing. Kadang buku yang jelas berisi soal politik asal dibungkus secara khusus dan diselipkan gambar lucu juga bisa masuk. Sebaliknya, buku yang jelas keagamaan bisa tetap ditolak, antara lain The Pope,” sambung Oei.
Tapol Menyogok
Sikap kaku dan penjagaan ketat petugas RTM Nirbaya boleh jadi karena ulah tapol lain. Para eks menteri terperiksa dalam kasus G30S sudah diperingatkan untuk tidak menyogok aparat. Namun, karena keperluan mendesak, ada yang coba-coba menyogok petugas. Itulah yang dilakukan Soebandrio, mantan Wakil Perdana Menteri III merangkap Menteri Luar Negeri.
Persoalan bermula dari Soebandrio yang hendak bersurat kepada istrinya. Demi memuluskan pengiriman, Soebandrio menyogok anggota militer yang ditugaskan mengawalnya. Selain suratnya disita, Soebandrio kena damprat Letkol Achmad Tahir, oditur militer yang memeriksa berkas perkaranya di Mahmilub, yang marah atas praktik sogok-menyogok.
“Maksudnya menyogok itu agar dia bisa mengirimkan surat-surat ke luar kepada orang-orang tertentu,” lansir Kompas, 25 Oktober 1966.
Tak hanya Soebandrio, Jusuf Muda Dalam, mantan Gubernur Bank Indonesia, juga melakukan hal yang sama. Jusuf yang dikenal tajir pernah menyogok seorang letnan CPM dengan iming-iming mobil Mazda. Namun, aksinya itu ketahuan oleh Tim Pemeriksa Pusat (Teperpu).
“Letnan CPM itu segera dipecat dengan tidak hormat dan dewasa ini berada dalam Rumah Tahanan Chusus di Salemba untuk diadili,” sebut Kompas.
Perlakuan Bersahabat
Pada pertengahan 1970-an, perlakuan petugas terhadap tapol-tapol di Nirbaya mulai longgar. Para tapol gelombang awal yang tersisa paling tidak sudah mendekam satu dekade, sehingga terjalin kedekatan dengan para petugas maupun komandan RTM.
Oei Tjoe Tat termasuk yang menghuni Nirbaya selama sepuluh tahun hingga bebas pada 1977. Menurut Oei, pertemuan keluarga yang biasa sejam dalam seminggu bisa terjadi sampai berjam-jam dalam kompleks inrehab. Malah seorang tapol dapat keluar dari kompleks untuk bertemu dengan wakil presiden di kediamannya, tentu tanpa izin resmi atau diketahui oleh pihak RTM.
Dari segi fasilitas, televisi sudah boleh masuk di setiap kompleks dan blok sejak 10 April 1974. Mengenai bahan bacaan, tergantung pada kebijaksanaan prajurit dan bintara yang bertugas.
“Kami toh bisa membaca Newsweek, Times, Far Eastern Economic Review, harian-harian dan majalah Indonesia, dan Strait Times Singapura,” kata Oei. “Sedang sebelum TV resmi diperbolehkan kami pun sudah bisa menyaksikan pertandingan badminton dengan Tan Joe Hok sebagai jago Indonesia menggondol piala-piala internasional.”
Kesan yang sama juga dirasakan keluarga tapol. Anak-anak para tapol, yang pada masa awal kebanyakan masih kanak-kanak, pada pertengahan 1970-an sudah remaja dan beranjak dewasa. Awalnya mereka merasakan penjagaan yang ketat, kini perlakuan petugas jauh lebih bersahabat.
Menurut Dian, ketat atau tidaknya di Nirbaya tergantung siapa komandannya. Begitu pula menurut Budi Maharesi, anak bungsu Omar Dani, para petugas RTM seiring waktu semakin memperlihatkan rasa hormat kepada tapol-tapol senior.
“Mereka akhirnya sudah seperti teman dan bahkan seperti saudara. Jadi, ada komandan RTM yang namanya Letkol CPM Sutomo Pinardi, itu sampai bersahabat. Dekat sekali hubungannya dengan Bapak,” tutur Budi. “Dan komandan-komandan Nirbaya itu akhinya kami memanggilnya bukan Pak lagi, tapi Om.”
Omar Dani dan Soebadrio adalah tapol paling lama di Nirbaya. Mereka menjadi penghuni Nirbaya terakhir sebelum dipindahkan ke Rutan Cipinang pada akhir 1980. Di Cipinang mereka menjalani tahun-tahun terakhir penahanan hingga dibebaskan pada 1994.*



















Komentar