top of page

Perseteruan di Balik Pembantaian Massal Tionghoa

Gubernur Jenderal Valckenier menangkap van Imhoff karena dianggap bertanggung jawab atas pembantaian orang-orang Tionghoa di Batavia. Van Imhoff yang ditunjuk menjadi gubernur jenderal membalas dengan menjatuhi Valckenier hukuman mati.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Adriaan Valckenier, gubernur jenderal VOC (1737-1741). (Rijksmuseum).

20 Okt 2023
5 menit membaca

Diperbarui: 20 Jun

PERISTIWA pembantaian massal orang Tionghoa di Batavia pada 1740 tak hanya menyeret nama Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier (menjabat 1737–1741), tetapi juga Gustaf Willem Baron van Imhoff yang paling bertanggung jawab atas kejadian yang dianggap noda hitam dalam sejarah kota Batavia.


Menurut pengarang Amerika Serikat, Willard A. Hanna, pada masa itu ribuan orang Tionghoa membanjiri Batavia karena tertarik oleh harapan kemakmuran di kota tersebut. Kehadiran orang-orang Tionghoa yang memenuhi kawasan pinggiran kota menyebabkan jumlah penduduk Tionghoa di kota dan sekitarnya meningkat hingga lebih dari 80.000 orang. Meski banyak yang bekerja di perkebunan tebu, pabrik gula, dan perusahaan kayu, namun tak sedikit pula menjadi gelandangan, yang beberapa di antaranya membentuk kelompok dan melakukan kejahatan kecil-kecilan hingga memicu kekacauan.


Khawatir kondisi itu mengganggu stabilitas keamanan dan perekonomian, pemerintah di Batavia pun bertindak. “Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier dan Majelis Hindia Belanda yang bertindak atas saran dari van Imhoff, yang baru kembali dari perang merebut Ceylon (kini Sri Lanka, red.), memutuskan untuk menangkap secara besar-besaran dan mengekspor kelebihan buruh orang Tionghoa, yang menurut van Imhoff sangat dibutuhkan di Ceylon,” tulis Hanna dalam Hikayat Jakarta.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page